Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Sunday, June 22, 2008

Anugerah Terindah...

Hari sudah semakin malam. Seharusnya saya sudah mulai mengerjakan skripsi karena tadi seharian listrik mati, ada pemadaman listrik bergiliran. Tapi saya belum bisa mencurahkan seluruh pikiran saya ke sana, hmm…mungkin karena perasaan saya sedang ‘penuh’. Banyak kejadian emosional dari kemarin, sampai tadi sore sewaktu orang tua saya menelepon.

Kangen.


Ya, saya kangen rumah. Sudah lama saya tidak pulang, ini rekor kedua saya setelah tahun kemarin. Memang tidak sebanding dengan teman-teman saya yang rumahnya lebih jauh, yang biasanya ngomel-ngomel kalau saya cerita ini. Hehe.. soalnya dalam tahun ini saya sudah dua kali pulang dan teman-teman saya terakhir kali pulang waktu lebaran tahun kemarin.


Walaupun belum sampai empat bulan saya tidak pulang, sudah banyak momen penting yang terlalui, tanpa saya...

  • Kelahiran Syifa, anak pertama dari Akhi, kakak saya yang ketiga. Beberapa hari menjelang kelahirannya, sama seperti kakak2 saya yang lain, kakak saya yang satu ini juga ‘merepotkan’ saya dengan meminta banyak pilihan nama untuk anaknya. :) Akhi juga meminta izin memakai nama Syifa (ini nama panggilan kesayangan saya dari Sidi, kakek saya). Hmm..tentu saja saya tidak keberatan, dan berarti bolehlah saya berpikir bahwa betapa ia mencintai adiknya yang keren ini. Hehehe...
  • Ulang tahun mama. Saya ingat waktu itu saya lagi gencar-gencarnya berhemat karena (ternyata) skripsi itu ‘mahal’ ya. Tapi saya ingin mengobrol dengan mama dan mengucapkan ‘happy bday’ langsung. Jadi, saya coba me-misscall mama yang kemudian tentu saja ditelepon balik ;) “Kenapa, nak?” “Selamat ulang tahun ya, ma..” bla..bla..bla....dan seterusnya “Tadi kenapa telp-nya putus waktu diangkat?” (hehehe, saya nyengir sendiri) “iya, ma..Lz pingin nelpon, mau ngucapin selamat ulang tahun, tapi karena lagi irit pulsa jadi misscall aja, jadinya kan mama yang nelpon” (dan akhirnya mama tertawa panjang, hehe..maafkan anakmu ya ma). Momen ini berakhir dengan terisinya pulsa hp saya beberapa waktu kemudian. Ah, mama...jadi malu :)
  • Adik saya, Nanda, lulus. Sebulan sebelumnya, dia menelepon saya..lagi-lagi menanyakan skripsi, dan “Duliku, kapan lulus?” he..cape deh. Ternyata di malam itu, dia baru saja membuat kejutan manis untuk keluarga, orang-orang tersayang. Memberi kado ulang tahun ayahnya dengan paket berisi skripsi, padahal tidak ada satu orang pun yang percaya dan pernah melihatnya berurusan dengan perskripsian. (tapi Duli percaya kok, Nda :))
    Dia adik sepupu saya, kami hanya berjarak lima bulan Tapi dia mampu membuat saya merasa punya adik laki-laki yang dari kecil saya inginkan. Saya sering sekali lupa kalau dia satu angkatan dengan saya. Ternyata dia sudah besar ya :) hehe, berasa udah tua banget jadinya.
  • Diva, keponakan saya dari Paduka, kakak saya yang kedua, katanya sudah bisa merangkak. Mama pernah menelepon sewaktu menginap di rumah Paduka karena Diva sakit. “Ga apa-apa kok, demam biasa aja, kayaknya karena mau merangkak” jelas mama waktu itu. Hmm...Bayi itu pertumbuhannya memang cepat ya.
  • Fazli, keponakan saya yang pertama (anak Tuan, kakak saya yang pertama) kemarin cerita kalau ia menang lomba. “Ibu, Anjeng menang lomba” (Nama adatnya Fazli itu Kanjeng Tuan Migo, hehe ribet ya? :p) “Wah, hebat...lomba apa, Njeng?” “Lomba masukin pensil dalem botol” (ia menjawab dengan bangga).
    Lalu... “Unan juga” (ini suara adiknya Fazli, ga mau kalah rupanya) “Unan lomba juga?” “Unan cekolah” (hehe, ga nyambung ternyata)
    Pembicaraan dengan dua balita ini biasanya berakhir dengan..”ibu, kapan pulang? bawain loti ya!!” (loti = roti) “Roti apa?” “Loti bonis” (bonis = Brownies).
  • “Nak, ikan peliharaan papi nambah. Sekarang jadi banyak ikan patin loh..” hehe, ini berita dari ayah saya. Ga jauh-jauh dari hobinya, yang sekarang dibisniskannya. Atau “Papi ditawarin masuk partai nih.. mending partai X atau Y?” “hmm, partai A aja, pi..kan keren, bagus banget, InsyaAllah baik” hehe..dan ternyata jawabannya adalah .. “ngga ah, partai A kan teroris. Kayak kamu, sering neror papi...ngerayu minta macem2”
    m(_ _)m
    (salah ngambil contoh, nih.. :p)
  • “Kamu lagi ngapain?”, “udah ga usah ngoyo”, “istirahat ya”, “udah makan belum?”, “kamu ini ngapain sih di jalan terus?”, “nginep di bandung lagi? ga bagus ah keluyuran terus”, de el el. Ini kalimat rutin mama selama saya mengerjakan skripsi, sampai-sampai Febi, teman saya, juga ikut diceramahin. Hehe... ma, skripsi Liza kan tentang anak jalanan, jadi ya wajar lah nongkrong di jalan mulu :)
  • Waktu itu saya lagi mengikuti pelatihan di RSHS. Tuan menelepon, berkali-kali tapi sepertinya akan repot kalau saya angkat. Akhirnya saya sms kalau sedang ga bisa angkat telp. “knp?”, “gpp, kangen aja” (yaah, kirain apa. Baru juga kemarin nelp).
    Malamnya kakak saya menelepon lagi, ternyata beliau sudah di Palembang. Kami membahas banyak hal dari pernikahan seorang adik sepupu kami sampai topik lainnya “....dulu kan tuan ama teman-teman yang berjuang untuk reformasi. Jadi sekarang kalian dong yang meneruskan”. Haaah, dasar mantan aktivis! Dampak dua tahun jadi ketua senat mahasiswa ternyata masih sangat berpengaruh. Bagus lah, pertahankan idealisme itu bro!!
  • “Dek..kapan pulang? Ada games terbaru loh, ---- (saya lupa apa namanya). Cariin ya di Bandung, di sini mahal nih”. Ini Akhi yang menelepon. “Hah? Akhi...kirain mau nitip beliin mainan atau apa gitu buat Syifa, ternyata....ck..ck...(sok tua neh)”, “ga mau? Awas ya kalau nanti pinjem” (ya jangan gitu juga sih...hehe)
  • "Dek, paduka ama papi lagi di Palembang nih. Ada tuan juga”, Waah, berita yang menyenangkan untuk saya, hehe. “Asiiik...kirimin empek-empek ya, kemplang juga! Lewat tiki bisa, atau kirim aja via bis nanti Liza yang ambil”, “aah kamu ini. Selalu aja minta kirimin macem-macem, nyesel deh gw cerita”. Huehehe...
  • “Duli...kita lagi di kampung nih, mau pesta kambing guling di ladang. Kasian deh ga ikut” Ini celotehan sepupu2 saya yang memang sengaja membuat saya keki. Tapi ga mupeng kok.. :p
  • “Nak, besok kita mau ziarah ke kuburannya Sidi (kakek saya) loh” Berita dari mama ini membuat saya terdiam cukup lama, mencoba menghitung dalam hati...ya, berarti sudah empat tahun Sidi pergi. Hmm, kangen sidi...my beloved hero
  • Dan masih banyak lagi cerita yang mereka kirimkan, tentang momen-momen tanpa kehadiran saya, agar saya tak melewatkannya. Tiap cerita itu membuat saya merangkainya menjadi bayangan yang indah, menjadikannya nyata dalam pikir, dan merasakan bahwa saya sedang ada bersama mereka.
    (tapi tetep aja kangen...)

Keluarga saya bukanlah keluarga yang romantis abis, tapi insyaAllah cinta tidak akan ada habis-habisnya. Selalu ada perhatian dan cinta yang ditunjukkan dengan cara masing-masing. Walaupun sewaktu kecil saya sering sekali protes karena beberapa perlakuan orang tua saya yang berbeda untuk kakak-kakak saya dan saya, seiring berjalannya waktu tak hentinya saya syukuri. Mereka selalu mendukung apa yang saya pilih, “terserah Liza aja, Liza yang lebih tau apa yang terbaik”, saya hanya perlu memberikan alasan yang kuat untuk pilihan itu, menjalankan pilihan itu dengan sebaik mungkin, dan menerima segala konsekuensinya. Sebuah pelajaran yang tak ternilai harganya...

Rabb, terima kasih atas anugerah yang indah ini. Berikanlah hidayah dan ridho-Mu, kekalkanlah kasih sayang di antara kami dan pertemukanlah kami kembali di jannah-Mu kelak.



Teruntuk keluarga tercinta..
Pap, Mam,
Tuan, Paduka, Akhi,
Kanjeng, Mahkota, Suhunan,
Fazli, Mara, Diva, Syifa,
Seluruh Mega-ers dan Muin-ers..
InsyaAllah..akan kubawakan pelangi itu untuk kalian
Luv u all

:)

Sunday, February 17, 2008

Guru Tersayang

Juli 2007. Akhirnya selesai juga saya membaca Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata!! Senangnya, soalnya sudah lama mulainya tapi ga beres2 juga. Hehe.. Tampaknya minat saya pada dunia baca-membaca & tulis-menulis lagi terpasung nih (terpasung rasa malas! Hehe..)

Sekarang pun, saya bingung mau mulai nulis dari mana, sepertinya terlalu banyak yang pingin saya ceritakan. Secara saya sudah lama ga pernah nulis. Baiklah, saya akan awali dengan childhood memories, pendidikan, dan setumpuk rasa terima kasih untuk seluruh guru saya..

Bagian awal Laskar Pelangi, saya sudah terharu. Membuat mata saya berkaca. Subhanallah.. saya acungkan seluruh jempol yang ada untuk guru-guru seperti Bu Muslimah & Pak Harfan. Sungguh, merekalah guru yang mampu melahirkan pendidikan dari hati mereka. Guru yang selalu membantu murid-muridnya menyalakan harapan.

Teringat saya pada ibunda tersayang. Dulu sewaktu beliau belum menjadi kepala SD, beliau adalah guru matematika merangkap wali kelas di sebuah SD Negeri di kampung. SD yang cukup minim fasilitas. Bahkan untuk menuju SD itu, ibu saya harus menyeberangi sungai dengan meniti 2 buah bambu yang disejajarkan. Kalau musim hujan dan airnya menderas, beliau harus berjalan memutar melewati jalan raya.

Beliau mengajar di sana sejak pertama kali kami pindah dari sebuah desa bernama Purbolinggo (tempat kelahiran saya & 2 kakak saya) sekitar tahun 1980-an akhir. Saat itu, saya masih kecil (ya iya lah..). Saya sering sekali ikut mengantar beliau pergi mengajar. Juga saat SD itu mengadakan kegiatan, saya hampir selalu ikut serta. Sebenarnya saya ingin bersekolah di sana. Tapi, ibu saya tidak mendaftarkan saya di sana melainkan ke sebuah SD yang cukup favorit di kota kecil tempat kami tinggal. Tapi, tetap saja saya sering sekali ikut serta dalam kegiatan SD itu.

Sampai akhirnya saya duduk di kelas 4, tingkat di mana ibu saya mulai mengajar matematika. Beliau mengadakan les matematika gratis di rumah dan menjadikan saya sebagai salah seorang muridnya. Hmm... atau mungkin sebagai ”asisten” beliau. Jujur, les dengan ibu saya kurang menantang bagi saya karena saat itu saya hampir selalu bisa menjawab pertanyaan dan soal yang diberikan. Bahkan ketika teman-teman saya (murid-murid ibu saya) tidak bisa menjawab, mereka menoleh ke arah saya dan akhirnya kami mengerjakan bersama. Saya juga sering membantu ibu saya memeriksa hasil ujian mereka.

O ya, ibu saya itu dulu adalah guru yang galak. Hehe.. bahkan sampai sekarang, kalau saya dan kakak saya bertemu dengan teman-teman yang dulunya adalah murid beliau, sering mereka bertanya, ”Nyokap lu masih galak ga?” Pertanyaan yang membuat kami selalu tertawa jika mendengarnya. Ibu saya dulu memang guru yang galak, tapi juga yang paling disayang. Buktinya, murid-muridnya selalu memenuhi rumah kami jika waktu les tiba dan juga berkunjung saat lebaran. Bahkan, anak gurunya pun sering diajak main (saya maksudnya, hehe) ^_^

Saya turut menyaksikan saat ibu saya dan murid-muridnya merenda mimpi dan bersama mewujudkannya. Bukankah suatu kebahagiaan yang tak ternilai ketika seorang guru melihat kesuksesan muridnya? Beliau..yang tak pernah lelah mengajari, membimbing, dan menyemangati...

Kini, beliau dipercaya menjadi kepala SD (di SD yang berbeda) lebih dari sekitar tujuh tahun lalu. Usahanya pun tak kalah keras, menjadikan sekolahnya berprestasi, agar makin maju. Tapi sepertinya, beliau tak lagi galak seperti dulu ^_^ Yang kembali membuat saya terharu adalah betapa beliau selalu dicintai. Pernah ketika saya mengantar ibu saya, beberapa muridnya berebutan membukakan gerbang untuk beliau. (Ma, u’r so special..)

Guru, tak hanya membuka mata seseorang untuk melihat dunia tetapi juga membuka hati dan menyalakan harapan di dalamnya. Ilmu yang tak akan pernah habis, bahkan salah satu amal jariyah (yang akan terus mengalir pahalanya walaupun telah meninggal) adalah ilmu yang bermanfaat.

Alhamdulillah.. Allah memberikan anugerah-Nya melalui tangan guru-guru tersayang, yang membantu saya untuk membuka jendela dunia agar cahaya ilmu-Nya selalu menyinari. Terima kasih guru-guruku tersayang, untuk semuanya..


Dear guru-guru di TK Pertiwi (Ibu Tatik, benar kah? Maafkan anakmu yang ternyata sudah lupa bahkan dengan namamu..), SD Pertiwi Teladan (Pak Udin, Wak Nurlela, Pak Susilo, Bu Wardah dan semuanya..), SLTPN 1 (Pak Koes tersayang, Bu Rochima, Bu Resti, Ibu Nurliyati, Bu Erlina, Bu Fat, Bu Pariaman, dan seluruh guru yang insyaAllah selalu saya cinta hingga kini), SMUN 2 (Bu Yuli, Bu Usa, Pak Herman, Bu Astini (Binda-ku sayang, semoga sehat selalu), dan semuanya yang telah mengiringi masa terindah itu), HI Unpad (Pak Reza, kajur-ku (benar kah namanya? Hiks.. kenapa sudah lupa ya?), Pak Wawan & Pak Dadan (yang telah memberikan tes lisan yang “mematikan” itu), dosen Sistem Hukum Indonesia (duh, saya ngaku2 bahwa beliau dosen favorit saya, tapi saya malah lupa namanya) dan semua dosen yang seringkali membuat saya mengernyitkan dahi dan berpikir keras ^_^ Thanks a bunch!), Psiko Unpad (Bu Rintana (hatur nuhun untuk oleh2nya, bu..), Bu SRA (Ibu...kangen bimbingan ^_^), Mbak Ninin, Mbak Titis, Mas Hary, dan semua dosen yang membantu “mengobati” diri saya di sini. Hehe.. Alhamdulillah.. Allah memberikan saya kesempatan untuk berusaha mewujudkan mimpi saya), TK Al-quran (Jl.Sumbawa no.3 Metro, hmm.. itu alamatnya bukan? Sekolah kedua saya sampai kelas 6 SD. Tempat saya belajar bahwa hidup tak hanya dipenuhi dengan ilmu untuk mengenal dunia. Ibu Hanna Khairul Ummah.. kangen, bu. Sudah sering sekali saya mimpi ibu. Ibu apa kabar?).

Dan untuk seluruh guru saya di sekolah kehidupan..terima kasih mengajari saya tentang hidup..


Rabb, lindungilah mereka selalu.. dan berkahilah ilmu kami..