Showing posts with label semangat. Show all posts
Showing posts with label semangat. Show all posts

Tuesday, February 6, 2018

Kapan Update Blog?

Itu pertanyaan mentor saya via whatsapp pagi tadi, yang saya jawab dengan: "nanti malam, insyaAllah". Jawaban nekad sebenarnya karena saya belum mempersiapkan apa-apa. Blog yang lebih dari seminggu yang lalu berganti template ini pun belum pernah saya buka lagi. Ya, blog ini. Blog yang usianya sudah sepuluh tahun. Blog yang saya buat ketika sedang bertarung dengan “twenty something” yang sering sekali membuat galau.

Sebentar, saya jelaskan...jadi beberapa minggu yang lalu saya mengirim pesan kepada seseorang yang pada akhirnya saya nobatkan sebagai mentor ini untuk mengajari saya cara me-manage blog. Blog mentor saya ini keren lho...padat, berisi, dan yang terpenting selalu update. Ya itulah suatu ketika mentor saya ini mengunggah tawaran untuk belajar blogging, tentu saja saya sangat tertarik, siapa tau jadi motivasi untuk belajar menulis lagi.

Pelajaran pertama adalah membuat template blognya. Karena singkatnya waktu belajar ini, Jumat sore ba’da ashar sampai maghrib, jadi dimanfaatkanlah blog yang ada untuk sarana belajarnya. Walaupun sebenarnya saya inginnya punya blog baru, blog yang lebih dewasa. Haha...ya itu tadi, blog saya kan blog masa transisi, ketika sedang bergulat pada fase perkembangan remaja akhir menuju dewasa awal 😁 Tapi, buat belajar okelah...yang penting kan tau tekniknya dan semangat menulis untuk mengisi blognya dulu.

Panjang ya prolognya ini, terpotong juga ketika menuliskan ini saya malah iseng memasang aplikasi HOOQ di HP, mengutak-utiknya sampai kemudian tertarik dan memutar satu judul film dan berakhir pada panas di mata dan hidung meler karena terharu sampai serasa ada yang nyangkut di tenggorokan. Hehe..

Sepertinya makin malam lah proyek ini akan selesai, belum lagi saya besok harus berangkat pagi-pagi sekali karena harus menyiapkan apel pagi di kantor dengan sebelumnya harus menyiapkan sarapan, menyiapkan perlengkapan anak-anak sekolah, mengantarkan anak sekolah, dan sebagainya sebagainya....

Ah, okay...

Terlalu banyak alasan kan..jadi “KAPAN UPDATE BLOG?”
Pertanyaannya kan itu...ya sebenarnya bisa kapan saja bukan? Karena isinya pun bisa apa saja. Mudahnya, tinggal buka situs google lalu cari berita atau cerita yang menarik. Copy-paste, cantumkan sumber. Update di blog. Selesai.

Tapi saya punya pertanyaan sendiri yang harus saya jawab: “NGAPAIN SIH NGE-BLOG LAGI???”

Hey...bisa panjang itu jawabannya, bisa ga tidur saya semalaman nanti, padahal kan saya harus segera tidur karena besok harus.....(sudah tau ya terusannya, hehe)

Okay, saya nge-blog karena saya ingin.
Saya bilang ke mentor saya, “supaya agak pinteran dikit”.
Saya sudah lama ga menulis, walaupun dulu juga menulisnya ya paling sering mah curhatan. Tapi ada rasa bahagia ketika saya bisa menuliskan apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan.

Jadi, setelah saya menyadari dan memantapkan keinginan saya untuk nge-blog lagi (yang sebenarnya berarti keinginan saya untuk belajar menulis lagi), kemudian saya meminta izin kepada suami saya, maka...sudah waktunya untuk kembali. “Hey, guys. I’m back!!”



Doakan ya semoga saya bisa konsisten, dan apa yang saya kerjakan ini bermanfaat. Aamiin.

Baiklah, terkait dengan janji saya malam ini untuk update blog, syukurlah saya akan benar-benar menepatinya sebelum tanggal hari ini berakhir.





Oya, di lain waktu insyaAllah saya akan cerita apa yang terjadi selama sepuluh tahun ini, tapi tentu saja tidak semua ya. Juga tentang mau dibawa ke mana blog ini nantinya. Hehe...

PS: kata mentor saya "biasakan kasih gambar ya di setiap postingan ya". Nah, gambar tulisan kali ini didapat dari hasil googling ya 😁

Tuesday, December 16, 2008

Hidup Baru :)

Waw, ternyata posting terakhir di blog ini di bulan Juni, enam bulan yang lalu. Berarti setelah itu saya melewati berbagai peristiwa penting, antara lain masa pengolahan data skripsi, revisi, forum (seminar hasil) skripsi, sidang, pindah kostan, wisuda, sampai pulang kampung :)

Dan akhirnya..setelah sekian lama blog ini tidak di-
update, sekarang tibalah saat yang berbahagia (n_n) saya kembali berselancar di dunia maya ini. Cerita kali ini akan diawali dengan kabar-kabari dari saya ^^

Alhamdulillah setelah melewati perjuangan yang cukup panjang..selesai juga tugas saya sebagai mahasiswa S1. Sekitar empat bulan yang lalu saya mengikuti prosesi wisuda sarjana. Walaupun sebenarnya rasa lega itu sudah memenuhi rongga dada saat dosen penguji mengucapkan selamat pasca sidang. Tapi yaa, bagi kebanyakan orang kan upacara wisuda-lah akhir dari perjuangan kuliah :) Akhir dari kuliah…tapi awal untuk perjuangan baru. Episode seperti apa yang akan saya lalui setelahnya?

Selepas masa perkuliahan, saya sempat mengalami disorientasi. Bingung menentukan langkah selanjutnya. Berbagai rencana yang pernah disusun mendadak menjadi satu hal yang tidak menarik, tidak realistis, bahkan terkesan egois. Saya sendiri kaget dengan apa yang saya alami. Belum lagi dua bulan setelah itu saya kembali ke kampung halaman (rencana untuk ‘tinggal dulu’ di Bandung ternyata ditentang habis oleh keluarga besar =D). Akhirnya kembali menjadi ‘anak rumahan’ setelah sembilan tahun pergi. Yah, walaupun semasa SMU dan kuliah saya sering pulang, tapi biasanya itu dalam rangka liburan dan tentu saja tidak lama.

Campur aduk perasaan saya ketika harus pulang dan meninggalkan kehidupan di Bandung yang telah cukup lama saya akrabi. Saya sadar bahwa saya harus segera menyesuaikan diri terhadap ini semua. Bukankah saya begitu mencintai kampung halaman saya ini? Saya pun pernah berjanji untuk kembali pulang padanya. Mungkin inilah saatnya.

Tapi ternyata, walaupun saya mencoba untuk menikmatinya, proses penyesuaian diri ini sempat membuat saya stres. Banyak hal yang dulunya biasa saja, tiba-tiba menjadi masalah =D Lucu memang..karena saya juga mengalami cultureshock, di kampung halaman saya sendiri. Sampai akhirnya seseorang yang sangat saya hormati (ayah relawan Gunungkidul-red) mengingatkan saya, “shock ya dengan kampung sendiri? Jangan2 orang kampung juga shock lihat Liza :)” Jleb banget rasanya, hehe. Saya jadi sadar bahwa bukan saya sendiri yang ‘belum nyaman’ dengan perubahan-perubahan ini. Nuhun ya, pak.

Yah, setelah itulah saya mencoba untuk lebih bertoleransi atas apa saja yang tidak sesuai dengan diri saya, karena bukankah orang lain juga bertoleransi atas kehadiran saya, yang secara langsung maupun tidak langsung juga memberikan perubahan dalam kehidupan mereka?

Suatu situasi memang akan lebih menenangkan ketika kita mampu memahami dan menerimanya. Itulah yang saya coba lakukan. Menerima perubahan dan melakukan penyesuaian terhadapnya memang tidak mudah, tapi mau tidak mau harus dijalani. Jadi, ya tentu saja harus berdamai dengan diri sendiri dan situasi.

Salah satu ciri seseorang yang sehat mental adalah reality testing-nya baik (mampu menerima kenyataan) dan mampu menyesuaikan diri. Saya sadar, mental saya sempat ‘terguncang’. Terbukti kemarin saya sempat psikosomatis, karena cukup aneh dengan kondisi saya yang tercukupi gizi dan istirahat =D tetapi malah kemudian sering sakit. Kata ayah saya, saya sedang slow down, yang biasanya berkecepatan 100 km/jam menjadi 40 km/jam (seorang sahabat malah sempat berseloroh, “20 km/jam kali” :D). Meskipun situasinya berbeda, beliau sepertinya sedang menurunkan ilmu “cara menghadapi masa pensiun” (yang telah dilewatinya) pada saya.
Alhamdulillah saya (dibantu dengan beberapa sahabat) mecoba ‘mengobati’ diri saya, dan mengajaknya kembali bercengkerama dengan berbagai aktivitas. Walaupun saat ini badan sulit bergerak dengan lincah, tapi setidaknya saya tidak ingin kepala saya diam saja :) Saya ingin terus belajar untuk bisa menerima, menikmati hidup, dan mengamalkan apa-apa yang telah saya dapatkan.

Mohon doanya kawan...semoga diri ini bisa selalu bermanfaat :)


Salam,
Liza :)

NB: Kampung halaman saya ini, terutama kota kecil nan tenang tempat saya tinggal, banyak dikagumi oleh teman-teman luar daerah yang berkunjung. Kota yang bersahabat dan memiliki banyak harta karun. Kapan-kapan berkunjunglah, kawan..

Sunday, June 22, 2008

Mari Berkata-kata (Lagi)

Minggu kemarin saya mengikuti seminar usulan penelitian seorang teman saya, tentang hubungan self-efficacy (keyakinan akan kemampuan diri) dengan engagement membaca literatur ber-Bahasa Inggris. Menarik, tapi juga membingungkan. :)
Seminarnya cukup panjang, membahas banyak hal, terkadang jadi sedikit keluar konteks. Tapi ada hal yang masih terekam jelas di kepala saya, yaitu pertanyaan seorang dosen saya tentang definisi membaca dan berbahasa. Sejenak pikiran saya sempat keluar dari ruangan itu, menjelajah sendiri. :)

Saya teringat dengan pembicaraan dengan seorang sahabat saya, tentang dunia tanpa kata. Kami mendiskusikan hal ini karena ternyata kami sering berbicara tanpa kata-kata, hanya dengan isyarat, tatapan mata, atau bahkan tanpa melakukan perilaku overt apa pun. Kami menyebutnya bahasa kalbu. Hehe...

Lalu, apa jadinya dunia ketika tidak lagi ada kata-kata di dalamnya?

Kata memang diperlukan untuk menyampaikan maksud kita kepada orang lain. Tetapi kalau ternyata maksud itu sudah tersampaikan pada orang lain, berarti kata-kata tidak lagi diperlukan dong? Hmm..mungkin ada yang tidak setuju dan mengatakan bahwa dalam komunikasi diperlukan suatu feedback. Ok..tapi kalau feedback juga bisa diberikan tanpa kata-kata, berarti urusan juga sudah selesai bukan? :)

Ya, memang cukup riskan. Oleh karena itu, perlu ada bumbu tambahannya, yang tanpa bumbu ini bahasa kalbu sulit dilakukan. Bumbunya adalah ta’liful qulb (keterikatan hati), yang artinya juga dibutuhkan adanya rasa saling memahami.

Dengan bahasa kalbu ini, jikalau ada kata-kata yang dikeluarkan insyaAllah akan lebih mudah dipahami. Contohnya, saya baru menyadari ternyata saya cukup sering menamakan sesuatu dengan bahasa saya sendiri. :) Sebagian teman yang memang dekat dengan saya, biasanya sudah terbiasa dan mengerti apa maksud saya, namun bagi yang keterikatannya belum begitu kuat biasanya akan mengernyitkan dahi dan memasang tampang serius. Hehe...Tapi ini bukan berarti saya hidup di dunia lain loh.

Ada beberapa orang sahabat saya yang juga sering mengeluarkan kata-kata ’aneh’, yang pada akhirnya pun kami terbiasa dengan kata-kata yang kami ciptakan.
Saya sempat berpikir, apa saya tidak nasionalis ya? Kan sudah ada bahasa persatuan. Kalau semua punya bahasa sendiri nanti maknanya akan berbeda-beda jadinya. Tapi saya bukannya mau mengaburkan makna sebenarnya dari kata-kata itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sebenarnya ketika kita berada dalam situasi yang sama dan sedang merasakan hal yang sama, kita akan sangat mudah memahami apa yang dikatakan seseorang.

Tapi ya..terlepas dari semua itu, untuk urusan tulis-menulis tentu sulit jika tidak ada kata-kata karena justru itulah senjata utamanya. Kalau tidak ada kata, lalu apa yang kita tulis? Hehe.. Satu hal yang saya pelajari adalah ternyata kata-kata itu lebih sulit digunakan untuk menulis daripada untuk berbicara. Ah, rasanya berat sekali untuk bisa melahirkan untaian kata-kata, butuh usaha yang tidak mudah. Tapi biasanya karena perjuangan inilah, rasanya nikmat sekali jika telah selesai menulis (Hmm..tapi akan berat lagi ketika akan mulai menulis lagi =D). Mungkin itu maksud dari ”menulis itu berarti mati dan hidup berulang kali”, ya? Saya lupa baca kalimat ini di mana..

********************
Tiba-tiba saya bingung mau berkata-kata apa lagi karena ternyata kata-kata saya di atas jadi panjang ya... =D
Sebenarnya file tulisan ini sudah ada sejak beberapa bulan yang lalu, tapi baru beberapa kalimat. Setelah itu, saya menjadi
'malas’ menulis. Saya kembali tergelitik untuk meneruskannya karena ada yang ’megingatkan’ saya untuk menulis bukan hanya berpikir untuk menulis, hehe...hatur nuhun ya.

Semoga tiap kata yang kita keluarkan bermanfaat ya, atau paling tidak jangan sampai merugikan atau menyakiti orang lain.
Hmm...mari berkata-kata :)

Thursday, February 28, 2008

Mengeja Kata

Sewaktu kecil, saya sangat suka sekali membaca. Sangat. Membaca apa pun. Buku, majalah, koran, buku tugas orang tua saya, spanduk dan iklan di jalanan, bahkan label-label yang ada di berbagai barang. Menyenangkan sekali. Apalagi saat itu keluarga saya berlangganan dua koran (lokal dan nasional), tabloid (untuk ibu saya), dan dua majalah anak (khusus untuk saya). Saya juga masih ingat sewaktu kecil ayah sering mengajak saya ke toko buku di samping pasar tradisional di kota saya sambil menunggu ibu saya berbelanja. Dan itu adalah tempat yang sangat menyenangkan bagi saya, walaupun di seberang toko itu adalah tempat pembuangan sampah, yang tentu saja sering mengeluarkan bau tak sedap.


Tapi kemudian, kesenangan itu seakan terhenti. Saya seolah terlupa dengan semua itu. Saya pernah menyalahkan paman saya dan beberapa orang lainnya yang berpengaruh terhadap terhentinya minat saya untuk membaca. Mereka pernah memarahi saya dan ”melarang” saya untuk membaca (setidaknya seperti itu yang pernah saya pikirkan). Padahal mungkin itu mereka lakukan karena melihat saya sudah berlebihan. Mungkin saja. Karena sangat suka membaca, saya sering tidak peduli di mana pun saya berada dan sedang apa pun saya. Sebisa mungkin saya membawa bacaan saya ke mana pun saya pergi. Saat makan pun, saya tetap membaca. Ya bisa ditebak, saya menghabiskan waktu yang lama untuk sekali makan. Ibu saya sering mengingatkan, tapi tampaknya beliau kemudian memilih untuk membiarkan karena waktu itu saya termasuk anak yang susah makan. Jadi, kalau dengan membaca saya mau makan, itu mungkin lebih baik.


Walaupun demikian, saya tetap punya waktu bermain dengan teman-teman saya. Tapi setelah itu, saya akan kembali asyik dengan dunia saya. Saya ingat ada kejadian memalukan yang sering saya lakukan dulu. Karena ada masalah dengan jemputan sekolah saya, orang tua saya akhirnya memperbolehkan saya untuk berangkat dan pulang sekolah sendiri. Untuk pulang ke ke rumah, saya harus menaiki angkot dari terminal dan sebelumnya saya harus berjalan kaki sekitar sepuluh menit ke sana. Jika tidak sedang bersama teman-teman, saya akan menggunakan waktu perjalanan itu untuk membaca. Ya, membaca sambil berjalan (semoga tidak ada yang meniru ya). Hasilnya, saya sering sekali menabrak sebuah tiang telepon yang ada di tengah- tengah trotoar. Parahnya, itu tidak menyurutkan niat saya untuk tetap membaca di perjalanan pulang itu (saya selalu tersenyum geli jika melewati tiang itu sekarang).
Seorang guru SD saya sepertinya melihat gejala ‘kecanduan baca’ yang saya alami. Sampai-sampai sewaktu ada tugas Bahasa Indonesia untuk membuat sinopsis buku, saya sering mendapat jatah yang paling banyak dibandingkan teman-teman saya. Saya masih ingat beberapa novel sastra tebal yang saya buat sinopsisnya, di meja makan (tetep loh). Hehe. Ya, saya menikmatinya. Menikmati kecanduan itu.


Namun, semua itu berubah karena tiba-tiba beberapa orang saudara saya mengikuti apa yang saya lakukan. Apalagi ketika keluarga paman saya pindah di dekat rumah saya. Anaknya, yang tentu saja belum punya banyak teman, selalu bermain bersama saya. Penularan pun terjadi. Hasilnya, ia mulai suka membaca saat makan. Ternyata ayahnya tidak menyukai hal itu. Sewaktu tahu siapa yang menularkan pada anaknya (hehe), beliau pun mulai melakukan aksi ”pelarangannya”.
Aksi ini tampaknya berhasil, apalagi setelah itu saya masuk ke SMP favorit yang punya seabrek tugas dan kegiatan. Saya merasa semakin sedikit waktu yang saya punya punya untuk membaca. Lama kelamaan pun semakin menyurut intensitas saya dalam membaca. Saya hanya ’sempat’ membaca majalah-majalah remaja yang ringan, ya sekedar untuk mengisi waktu luang. Saya pun hanya bisa mengagumi teman-teman saya yang suka membaca, mereka hebat ya! Masih sempat membaca banyak buku.


Begitulah, hingga saya masuk SMU. Awalnya, saya cukup sering ke perpustakaan sekolah, tapi itu karena tuntutan tugas sekolah dan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) untuk mencari bahan laporan. Selebihnya, waktu istirahat rasanya lebih menyenangkan dihabiskan di kantin, ^^.


Hingga kemudian, saya kembali teringat dengan nikmatnya membaca ketika saya melakukan sebuah perubahan dalam hidup saya menjelang akhir kelas 3 SMU: memakai jilbab. Perubahan yang membuat saya harus banyak membaca karena banyak sekali hal yang tidak saya ketahui. Rasanya seperti orang linglung, ketika tidak tau harus bergerak ke arah mana. Dengan membaca, setidaknya saya tau bahwa ada banyak arah hidup dengan konsekuensinya masing-masing, yang membantu saya mengambil keputusan arah mana yang sebaiknya saya ikuti.


Dan hingga saat ini, saya berusaha untuk tetap menjaga kenikmatan itu, menjaga semangat untuk mengeja kata demi kata yang tertangkap oleh mata. Kata yang kemudian akan dimaknakan dalam diri. Sulit? Memaknakannya, itu yang kadang terasa sulit. Tetapi, saya tetap ingin belajar, agar tak lagi sulit.


Ya, membaca buku mungkin bukanlah yang sulit karena kita sudah bisa membaca sejak lama. Sejak ibunda guru mengajarkan bagaimana caranya mengeja. Namun, apakah kita mampu membaca apa yang tersirat dari setiap kata itu? Karena dalam setiap kata, insyaAllah akan bisa kita temukan ”makna”nya, asal kita mau berusaha. Bukankah Allah dalam menciptakan sesuatu tidak dalam kesia-siaan?


Semangat!!!


Katanya, "kemampuan menulis itu berbanding lurus dengan ketekunan kita membaca." Jadi ya, banyaklah membaca jika ingin bisa banyak menulis. insyaAllah.. =)