Thursday, February 14, 2008

“Kenapa Saya Berhenti Menulis?”

Kenapa saya berhenti menulis? Pertanyaan yang akhir-akhir ini sering sekali melintas di kepala saya. Namun bukannya mencari apa jawabnya, saya malah ingin sekali mengelak pertanyaan itu, ”ngga juga kok, siapa bilang?” Lucu memang, karena sebenarnya pertanyaan itu awalnya memang muncul dari diri saya sendiri. Jadi seharusnya saya juga tidak perlu terkejut ketika menyadari bahwa hanya ada satu file tulisan saya di bulan kemarin, yang ternyata juga baru satu paragraf pembuka.

Hfff....Bahkan saya pun kesulitan untuk memulai tulisan ini.

Saya memang bukan (baca: belum menjadi) penulis profesional, apalagi terkenal. Saya hanya menulis apa yang saya rasakan, saya pikirkan, saya alami. Terserah saya saja. Tapi, menjadi penulis hebat masuk dalam deretan cita-cita saya waktu kecil karena saya suka menulis. Menulisi dinding, kertas-kertas yang ada di sekitar saya, bahkan di bagian bawah meja makan =)

Suatu sore di awal tahun ini, saya menyadari bahwa saya sedang tidak suka menulis. Saya pun berhenti menulis. Kenapa?

Saya sibuk (hehe, geli rasanya sewaktu mengetik kalimat ini).
Sibuk? Ralat, sok sibuk mungkin. Karena buktinya saya masih bisa melakukan hal-hal lain seperti biasanya, ya mungkin sedikit berubah ketika sedang banyak deadline. Tapi itu tidak mengurangi waktu dua puluh empat jam yang saya punya, bukan? (haha, akui saja kalau malas ya?!)

Mungkin karena memang tidak ada ide untuk ditulis. Bukankah biasa ketika kita tidak menemukan inspirasi yang menjadi sumber tulisan? Jadi, mungkin itu alasannya.
Hmm.. Tapi saya tidak yakin. Setiap harinya seseorang pasti mengalami sesuatu. Sesuatu yang tentu saja bisa diceritakan lewat tulisan. Lagipula tulisan itu tidak harus dipublikasikan kepada orang-orang bukan? Banyak orang yang menulis untuk memberi kepuasan pada dirinya sendiri. Sulitkah menulis kejadian yang dialami sendiri? Saya rasa bukan itu alasannya. Sering sekali banyak hal yang ingin saya ceritakan, terlalu banyak malah. Jadi ide itu pasti tersebar di mana-mana.

Tunggu, terlalu banyak yang ingin diceritakan? Hmm, mungkin saja itu yang menyebabkan saya berhenti menulis karena saya menjadi sulit untuk memilih yang mana yang akan saya tulis.
Ya, bisa saja. Tapi bukankah kita bisa melihatnya dari sisi yang berbeda. Maksud saya, dengan punya banyak hal ingin diceritakan seharusnya bisa membuat seseorang tidak pernah kehabisan ide untuk menulis. ”Ada-ada saja ya!” =p

(”Trus apalagi alasan yang bisa saya berikan ya?”)
Oya, menulis kan bisa jadi sarana katarsis, untuk membantu meredakan stress. Nah, mungkin saja ada sarana katarsis yang lain, jadi menulis tidak lagi diperlukan.
Ok, sekarang saya memang tinggal serumah dengan saudara-saudara saya. Saya punya banyak kesempatan untuk bisa ”membagi” apa yang saya alami seharian. Jadi, mungkin saya sudah cukup lega karena merasa beban saya berkurang setelah bercerita. Tapi, saya jadi berpikir kembali.. apa memang saya menulis hanya sebagai sarana katarsis? Sehingga ketika ada cara lain untuk katarsis, saya merasa tidak perlu lagi menulis? Bukankah menulis itu berbeda dengan berbicara?

Saya jadi teringat dengan satu mata kuliah di semester tujuh kemarin, analisis eksistensial, yang mengharuskan saya dan teman-teman saya menulis berbagai hal mulai dari diary, surat cinta, artikel, dan sebagainya. Dan ternyata, saya sempat terlupa dengan semua itu..bahwa dengan menulis, kita lebih bisa mengenal diri sendiri, kita bisa menemukan solusi dari permasalahan kita. Ah, ternyata lagi-lagi buat diri sendiri ya? ^^; But, it’ ok. Dan itu ”memaksa” saya untuk menyelesaikan tulisan ini, paling tidak untuk saya sendiri. Untuk menghadapi diri saya sendiri.

Hhmm, mungkin saya sudah lama tidak berdialog dengan hati. Mengajak hati untuk memaknakan setiap jengkal kehidupan, menguntai hikmah untuk dibagi pada dunia.

Namaku sunyi
Aku senang berteman sepi
Karena sepi mengajakku bercengkerama dengan hati
Sssttt...
Tidakkah dapat kau dengar desis angin?
Juga gemericik air yang mengalir
Ssstt...
Tidakkah dapat kau dengar bisikan mentari pada dunia?
Juga senandung malam yang menemani setiap mata yang terjaga
Semua yang terdengar
Menelusup ke relung hati
Meyakinkanku bahwa semesta pun menasbihi keagungan-Nya

Berbagai pertanyaan kemudian berkelebat di kepala saya. Apakah saya sudah lupa dengan mimpi saya sewaktu kecil dulu? Apakah saya lupa dengan kenikmatan yang dirasakan setelah menulis? Tidak inginkah saya berbagi hikmah dengan orang lain? Berbagi kebahagiaan dan berbagai rasa dengan orang yang lebih banyak? Agar bisa belajar bersama, agar bisa saling bertukar puisi hikmah.

Mungkin memang ada banyak alasan untuk berhenti menulis, tapi ada banyak alasan juga untuk kembali memulainya. Ya ya ya, sepertinya tidak perlu lagi mencari jawab kenapa saya tidak lagi menulis karena saya harus segera me-reset orientasi saya, menyusunnya agar menjadi lebih bermakna. InsyaAllah saya akan belajar kembali menyusun kata untuk dibagi pada dunia.

Saya teringat dengan nasihat dari seorang ”guru” saya, sehari sebelum peringatan kelahiran saya dua tahun yang lalu.
“Liza mulailah untuk menulis....menulis tidak sama dengan berbicara. Ketika kita berbicara kita bisa dengan mudah mengalirkan kata2 dari mulut (padahal konsekuensinya berat). Tapi, kalau menulis, liza harus menulis apa yang ada di hati. (dan insyaAlloh menulis lebih aman dari berbicara) dan tidak perlu menjadi orang yang perfeksionis. Dalam artian, menulislah apa yang ingin liza tulis, tidak usah khawatir jelek atau tidak karena kepuasan adanya di hati liza, bukan ada di pembaca (walaupun tujuan kita ingin agar pembaca memahami tulisan kita) dan mulai dari yang kecil, sekitar kita, dan konsisten. InsyaaAlloh dengan semangat bisa..Saya juga masih belajar. Dan Islam akan tumbuh dari tulisan.. tulisan itu lebih tajam dari pedang
Yang penting dari hati, dan jujur, nggak usah yang extraordinary..
Keep in spirit ya”


Thanks, bro!

Buat semua, mohon bantuannya yaa..

Dan untuk dua orang saudaraku, ayo semangat untuk AB-3 Project!! n_n

No comments: