Thursday, February 28, 2008

Sebuah Perjalanan

Senin sore. Langit yang mendung menjadi bertambah gelap karena waktu kan berganti menjadi malam. Saya duduk sendiri di sebuah angkot hijau menuju Cileunyi (sebenarnya juga ga sendiri karena ada Pak Supir). Ya, lagi-lagi saya memilih angkot yang kosong karena itu berarti saya bisa duduk di pojok, sebelah kaca besar di belakang angkot, di mana saya bisa melihat langit yang luas. Langit yang selalu saya yakini ikut menasbihkan keagungan-Nya.


Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.
Begitu juga dengan kaca besar yang dilapisi film sehingga membuat suasana di luar menjadi sedikit buram. Tapi saya masih mendapat kesempatan untuk menikmati indahnya langit sore ini. Mungkin agar saya dapat sedikit melupakan gundah hari ini, agar saya dapat memecahkan teka-teki hikmah yang dipersiapkan hari ini.


Apa yang Ia rencanakan untuk saya hari ini?
Pertanyaan itu serasa menggantung di langit-Nya, seakan meminta saya untuk segera mencari jawabnya.


Saya rasa kepala saya berdenyut ketika saya mengingat berbagai potongan kejadian hari ini.

Hikmah apa yang hendak Ia berikan kepada saya? Teka-teki apa yang saat ini harus saya hadapi?
Kepala saya mulai sakit ketika serombongan siswa SMP menaiki angkot yang saya tumpangi. Tepat di depan saya, seorang remaja SMP itu duduk. Saya menatapnya. Entah mengapa, saya merasa ia mirip dengan saya sekitar sepuluh tahun yang lalu.


Sepuluh tahun yang lalu?
Ah, bukankah saat itu adalah saat saya mulai merenda mimpi, yang insyaAllah bisa terwujud sebentar lagi (Ya, walaupun “sebentar” itu juga relatif ^_^).
Sepuluh tahun yang lalu, ketika saya mulai merangkai mimpi, menetapkan cita-cita saya, tanpa ada paksaan dari siapa pun. Cita-cita yang mungkin cukup aneh bagi anak seusia saya yang tinggal di sebuah kota kecil. Cita-cita yang membuat saya harus menguatkan hati karena tidak banyak yang mendukung. Mungkin karena banyak yang tidak mengerti apa yang bisa saya lakukan dengan cita-cita itu. Tapi saya tetap bangga dengan cita-cita itu. Walaupun saya sempat nyaris menghentikannya selama hampir satu tahun.
Tapi, saya tetap yakin.. tidak ada yang terjadi secara kebetulan, karena setelah hampir setahun berkelana, mimpi itu kembali saat seorang sahabat berkata, “Pit.. emang ga mau ya mewujudkan cita-cita?” (Thanks, Gung. Kalimat yang tertulis di sobekan kertas kecil itu masih saya ingat sampai sekarang).


Dan semua terasa diatur dengan begitu rapi. Saat saya teringat dengan mimpi itu, di telinga saya terdengar lagu AFI Junior.. “Aku bisa..aku pasti bisa, ku kan terus berusaha....”


Saya tersenyum sambil memandang langit yang nyaris gelap. Mencoba meyakini bahwa apa yang terjadi hari ini bukanlah nasib pecundang ^_^, tapi persiapan yang dilakukan oleh pemenang dengan mundur bebarapa langkah agar lompatan yang dihasilkan akan semakin jauh. InsyaAllah..


Apakah itu bisa menjawab teka-teki hari ini?
Perjalanan sore ini menjadi menyenangkan, hingga tidak terasa saya sudah sampai di Cileunyi, yang berarti saya harus berganti angkot. Dan setelah dari angkot hijau itu, saya langsung mendapati angkot yang menuju Jatinangor.


Satu menit, dua menit, sepuluh menit.. angkot itu belum juga berangkat. Padahal hari sudah semakin malam. Beberapa penumpang mulai tidak sabar dan segera turun kembali. Entah mengapa, saya enggan untuk turun. Saya tetap berada dalam angkot itu, mencoba menikmati pemandangan di pertigaan tempat angkot itu mangkal. Mengamati berbagai “tanda” yang ada di sana, hingga mata saya tertumbuk pada sebuah pemandangan yang membuat saya miris. Anak-anak itu.. Lusuh, kumal, dan mungkin juga bau tanah (dalam arti yang sebenarnya. Bau tanah karena kotoran yang melekat di tubuhnya, seperti Donto, “adik” saya di Pasar Caringin). Mereka berkerumun di suatu tempat, sepertinya bersama keluarga mereka. Entah apa yang dilakukan, mungkin bercengkrama, berbagi cerita. Jarak yang terlalu jauh membuat saya tidak bisa mengamati dengan detail.


Angkot itu masih belum juga berangkat. Penumpang yang baru naik mulai resah. Tampaknya, Pak Supir benar-benar pencari nafkah sejati ^_^. Tapi saya tetap enggan untuk beranjak turun. Biarlah.. (Toh, saya sudah minta izin untuk pulang “sedikit” malam. Hehe.. Ampun, mbak)


Tak lama kemudian, seorang gadis kecil berpenampilan lusuh menghampiri angkot dan mulai bernyanyi di pintu angkot. Saya terhenyak. Apakah pemandangan di depan saya ini masih menjadi bagian dari teka-teki hari ini?


Jujur, saya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dinyanyikannya, karena di telinga saya juga dengan jelas mengalun harmonisasi nada dari mp4 saya. Tapi, saya kembali teringat dengan apa yang saya lakukan selama satu semester ini. Bukan. Selama beberapa tahun ini tepatnya. Bukankah adik-adik ini yang menjadi inspirasi bagi saya? Mengisi bagian hidup saya.. hingga hari ini.


Tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Saya teringat dengan biskuit yang ada dalam tas saya.
Apakah karenanya saya tidak jadi bertemu dengan adik-adik di Cicaheum sore tadi?
Segera saya ambil satu bungkusan dari tas, dan memberikannya pada gadis kecil itu. Tanpa memberikan kesempatan pada rasio saya, yang selalu melarang untuk memberikan reward kepada adik-adik itu. Kali ini, mungkin naluri saya yang menang. Mungkin, karena hari ini hati saya begitu lelah menerka. Tapi gadis kecil tadi mengingatkan saya tentang tujuan yang ingin saya raih. Lagi-lagi tentang cita-cita.. Terimakasih, adikku.. (gadis kecil itu kemudian bergegas menemui kerumunan tadi, tapi kemudian saya tidak bisa mengamati dengan jelas karena angkot itu mulai bergerak).


Ya, hari ini penuh dengan memori tentang mimpi, tentang cita-cita..
Semoga Allah meridhoi mimpi itu, agar menjadi nyata, agar nyata dengan penuh keberkahan...
Dan perjalanan “panjang” hari ini berakhir dengan pemandangan langit yang indah dengan bulan setengah lingkaran yang ditemani bintang-bintang. Saya sempat menikmatinya sesaat sebelum saya masuk ke dalam rumah yang di dalamnya sudah menunggu saudara-saudara saya (yang katanya sudah mulai kangen dengan saya. Hehe..)


..Cerita di suatu sore..



Comment:

Febi: subhanallah, sangat “terasa” mimpi za. Moga segera twujud ya^_^ wah........“rembulan tenggalam dalam wajah-Mu” versi za nih. hmmm.....setiap harinya ku mencoba menemukan, merangkai, menyusun, menata puzzle yang tengah Allah susun untukku. Subhanallah......besok teka-teki apa yang akan kita pecahkan?
Btw jadi inget langit sore di tol kemaren n langit di jalan mau ke sakura. Langit itu indah. Langit itu menakjubkan......ah.....apalagi yang menciptakannya.
Langit tak pernah biasa, Bintang tak pernah biasa, Keduanya memang titik kecil bila dibandingkan dengan Dia Yang Maha Besar, tapi ada satu hal besar,keduanya ada untuk menjalankan sunnah-Nya,tetap berdzikir menyebut nama-Nya
(hehee..kapan nih mau di posting, dah duluan di kasi comment deh ;b)


Balasan untuk comment:
Hehe.. tulisan yang fresh from the oven ini pun langsung dikasih comment ama Febi. Padahal belum tentu dipublikasikan, bi..
Moga tulisan ini bisa jadi awal untuk kembali bercerita lewat tulisan, setelah sekian lama.. ^_^
Rembulan tenggelam bi? Kurang lengkap, harusnya ditambah sang pemimpi, one minute mother, film The Secret, bahkan bukunya Om Norman VP, dsb. Dan yang paling penting...

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
dan bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya?

No comments: