Minggu, 01 Februari 2009

Dewasa, Harapan, dan Kenyataan

Waktu selalu bergerak, meninggalkan potongan kejadian yang kemudian menjadi masa lalu, lalu tibalah kita pada saat ini, dan kemudian menyongsong masa depan. Terkadang tidak terasa kita sudah sampai pada suatu tahap kehidupan tetapi setelah lama kemudian baru menyadarinya :)

Ternyata hidup itu memang unik, setiap tahapnya memiliki tantangan yang berbeda. Selesai dengan satu tahapan, kita harus sudah siap dengan tantangan yang ada pada tahap berikutnya. Dari masa anak-anak, remaja, dewasa, hingga nanti menjadi tua. Dalam tiap tahap kita rentan mengalami krisis, jika kita tidak mampu menyesuaikan diri dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada tahap itu.

Apalagi ketika memasuki tahap perkembangan dewasa awal, banyak hal yang cukup mencengangkan terjadi, terutama setelah menyelesaikan jenjang perkuliahan (hehe, saya proyeksi :p)

Awalnya, saya pikir hanya saya yang mengalami kebingungan ketika memasuki tahap ini, merasa disorientasi terhadap banyak hal. Tapi dari proses-proses berbagi (baca: saling curhat) dengan sahabat-sahabat saya, ternyata mereka pun mengalami hal yang lebih kurangnya sama.

Hal ini pun semakin dikuatkan dengan munculnya curhatan dengan berbagai versi dari teman-teman yang lain.Yang belum selesai kuliah bingung memikirkan skripsi, yang sudah selesai kuliah bingung mencari kerja atau beasiswa atau malah memutuskan untuk segera menikah, yang sudah bekerja jenuh dengan pekerjaannya, dan sebagainya. Belum lagi masalah hubungan interpersonal, atau (ini yang juga sering saya alami) seringkali kangen dengan teman-teman dan suasana kuliah :)

Biasanya di akhir sesi sharing tentang berbagai hal yang kami alami saat ini, saya dan sahabat-sahabat saya akan berseloroh, “Begini ya rasanya kehidupan dewasa awal” :)

**

Pada tahap dewasa awal ini, sebagian orang telah menyelesaikan jenjang pendidikannya. Sebagian teman saya biasanya memberikan ucapan selamat atas kelulusan ini dengan tambahan, ”Welcome to the real world”. Atau ada yang lebih dahsyat lagi, “Welcome to the jungle”. (hehe, apakah ini artinya dunia nyata itu ibarat hutan?)

Ucapan-ucapan sejenis itu mungkin muncul karena pengalaman-pengalaman sebelumnya telah mengajarkan bahwa betapa kehidupan pasca kampus itu sangat berbeda dengan kehidupan akademis yaitu ketika masih menjadi mahasiswa atau pelajar.

Pada lingkungan akademis, tujuan seseorang dapat dikatakan cukup jelas dan cara untuk meraihnya pun seakan telah diatur (walaupun pastinya ada tantangan tersendiri :)). Selain itu ada hal lain yang menurut saya cukup berpengaruh, yaitu status sebagai mahasiswa. Mahasiswa, walaupun mengandung kata ‘maha’ tetaplah seorang pelajar yang jika melakukan kesalahan (yang wajar) masih diperbolehkan dengan alasan masih belajar.

Tetapi setelah lulus, banyak hal menjadi tidak jelas. Tidak ada kepastian apakah poin A akan dapat diraih melalui cara B. Selain itu, telah ada kewajiban moral untuk mempertanggungjwabkan gelar yang telah didapatkan (ini yang berat, euy.. =D). Idealisme dan harapan yang dibangun harus rela disandingkan dengan kenyataan yang ada. Berbagai idealisme seperti ingin membuat perubahan sistem, atau ingin memiliki pekerjaan yang bermakna, atau memandang makna hidup jauh lebih berharga daripada pekerjaan, dan sebagainya, harus dapat menghadapi kenyataan yang terkadang tidak seperti apa yang diharapkan.

Selain itu, biasanya setelah lulus seseorang akan mulai meninggalkan dan ditinggalkan oleh teman-temannya. Setiap orang akan mulai sibuk dengan kehidupan barunya, maka berkuranglah tempat bercerita, berdiskusi, dan berbagi suka duka.

Saya tidak bermaksud mendramatisir kehidupan dewasa awal, namun untuk bisa menentukan langkah selanjutnya tentu saja kita harus mengenal diri sendiri dan apa yang sedang kita alami. Tak jarang, seorang dewasa awal tiba-tiba menyadari bahwa ada banyak hal tentang dirinya yang tidak ia ketahui.

Setelah menyelesaikan pendidikan, seseorang biasanya akan memiliki setidaknya tiga pilihan yaitu bekerja, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, atau menikah. Pilihan-pilihan yang harus dipertimbangkan matang-matang. Bahkan ketika sudah memutuskan pun, selanjutnya akan muncul pertanyaan-pertanyaan baru, seperti akan bekerja apa dan di mana, akan melanjutkan sekolah ke mana, bagaimana caranya mencari beasiswa, atau memutuskan pilihan akan menikah dengan siapa.

Cara menghadapinya?

Setiap orang akan memiliki solusinya masing-masing. Tapi yang perlu diingat adalah hidup itu penuh dengan pilihan. Jadi, adalah tantangan bagi kita untuk memilih yang baik-baik :)

Dalam roman terakhir Pulau Buru-nya Pramoedya, yang berjudul Rumah Kaca, ada satu paragraf yang menarik dan masih saya ingat sampai sekarang:

“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang, karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia”

Jadi, kenyataan yang tak sesuai harapan itu tentulah masih punya peluang untuk diubah sehingga tak perlu bertentangan nantinya :)

Saya juga sedang mencoba mendamaikan harapan-harapan saya dengan kenyataan yang saya hadapi saat ini :) Mereka memang sering bertengkar saat ini, tapi insyaAllah keyakinan akan membuat mereka bergandengan tangan kembali. Mohon doanya, kawan..Semangat!!

Baiklah, saya akhiri dulu tulisan ini. Terima kasih sudah membaca. Senangnya bisa berbagi.Bagi yang sedang mengalami krisis ini, yakinlah bahwa dirimu bukan satu-satunya orang yang merasakannya :) berbagilah.. dan mari kita nikmati hidup sebagai seorang dewasa awal :)

Tersenyumlah kawan, dan biarkan dunia ikut tersenyum bersamamu :)

Cheers!

Selasa, 16 Desember 2008

Hidup Baru :)

Waw, ternyata posting terakhir di blog ini di bulan Juni, enam bulan yang lalu. Berarti setelah itu saya melewati berbagai peristiwa penting, antara lain masa pengolahan data skripsi, revisi, forum (seminar hasil) skripsi, sidang, pindah kostan, wisuda, sampai pulang kampung :)

Dan akhirnya..setelah sekian lama blog ini tidak di-
update, sekarang tibalah saat yang berbahagia (n_n) saya kembali berselancar di dunia maya ini. Cerita kali ini akan diawali dengan kabar-kabari dari saya ^^

Alhamdulillah setelah melewati perjuangan yang cukup panjang..selesai juga tugas saya sebagai mahasiswa S1. Sekitar empat bulan yang lalu saya mengikuti prosesi wisuda sarjana. Walaupun sebenarnya rasa lega itu sudah memenuhi rongga dada saat dosen penguji mengucapkan selamat pasca sidang. Tapi yaa, bagi kebanyakan orang kan upacara wisuda-lah akhir dari perjuangan kuliah :) Akhir dari kuliah…tapi awal untuk perjuangan baru. Episode seperti apa yang akan saya lalui setelahnya?

Selepas masa perkuliahan, saya sempat mengalami disorientasi. Bingung menentukan langkah selanjutnya. Berbagai rencana yang pernah disusun mendadak menjadi satu hal yang tidak menarik, tidak realistis, bahkan terkesan egois. Saya sendiri kaget dengan apa yang saya alami. Belum lagi dua bulan setelah itu saya kembali ke kampung halaman (rencana untuk ‘tinggal dulu’ di Bandung ternyata ditentang habis oleh keluarga besar =D). Akhirnya kembali menjadi ‘anak rumahan’ setelah sembilan tahun pergi. Yah, walaupun semasa SMU dan kuliah saya sering pulang, tapi biasanya itu dalam rangka liburan dan tentu saja tidak lama.

Campur aduk perasaan saya ketika harus pulang dan meninggalkan kehidupan di Bandung yang telah cukup lama saya akrabi. Saya sadar bahwa saya harus segera menyesuaikan diri terhadap ini semua. Bukankah saya begitu mencintai kampung halaman saya ini? Saya pun pernah berjanji untuk kembali pulang padanya. Mungkin inilah saatnya.

Tapi ternyata, walaupun saya mencoba untuk menikmatinya, proses penyesuaian diri ini sempat membuat saya stres. Banyak hal yang dulunya biasa saja, tiba-tiba menjadi masalah =D Lucu memang..karena saya juga mengalami cultureshock, di kampung halaman saya sendiri. Sampai akhirnya seseorang yang sangat saya hormati (ayah relawan Gunungkidul-red) mengingatkan saya, “shock ya dengan kampung sendiri? Jangan2 orang kampung juga shock lihat Liza :)” Jleb banget rasanya, hehe. Saya jadi sadar bahwa bukan saya sendiri yang ‘belum nyaman’ dengan perubahan-perubahan ini. Nuhun ya, pak.

Yah, setelah itulah saya mencoba untuk lebih bertoleransi atas apa saja yang tidak sesuai dengan diri saya, karena bukankah orang lain juga bertoleransi atas kehadiran saya, yang secara langsung maupun tidak langsung juga memberikan perubahan dalam kehidupan mereka?

Suatu situasi memang akan lebih menenangkan ketika kita mampu memahami dan menerimanya. Itulah yang saya coba lakukan. Menerima perubahan dan melakukan penyesuaian terhadapnya memang tidak mudah, tapi mau tidak mau harus dijalani. Jadi, ya tentu saja harus berdamai dengan diri sendiri dan situasi.

Salah satu ciri seseorang yang sehat mental adalah reality testing-nya baik (mampu menerima kenyataan) dan mampu menyesuaikan diri. Saya sadar, mental saya sempat ‘terguncang’. Terbukti kemarin saya sempat psikosomatis, karena cukup aneh dengan kondisi saya yang tercukupi gizi dan istirahat =D tetapi malah kemudian sering sakit. Kata ayah saya, saya sedang slow down, yang biasanya berkecepatan 100 km/jam menjadi 40 km/jam (seorang sahabat malah sempat berseloroh, “20 km/jam kali” :D). Meskipun situasinya berbeda, beliau sepertinya sedang menurunkan ilmu “cara menghadapi masa pensiun” (yang telah dilewatinya) pada saya.
Alhamdulillah saya (dibantu dengan beberapa sahabat) mecoba ‘mengobati’ diri saya, dan mengajaknya kembali bercengkerama dengan berbagai aktivitas. Walaupun saat ini badan sulit bergerak dengan lincah, tapi setidaknya saya tidak ingin kepala saya diam saja :) Saya ingin terus belajar untuk bisa menerima, menikmati hidup, dan mengamalkan apa-apa yang telah saya dapatkan.

Mohon doanya kawan...semoga diri ini bisa selalu bermanfaat :)


Salam,
Liza :)

NB: Kampung halaman saya ini, terutama kota kecil nan tenang tempat saya tinggal, banyak dikagumi oleh teman-teman luar daerah yang berkunjung. Kota yang bersahabat dan memiliki banyak harta karun. Kapan-kapan berkunjunglah, kawan..

Senin, 23 Juni 2008

Negeri Pelangi (2): Hidup itu Perjuangan

Siang itu hujan deras, saat bis yang saya tumpangi memasuki jalan Soekarno Hatta, Bandung. Ada SMS masuk ke Hp saya, dari A’Syarif pekerja sosial di RPA, “Za, ujan gede bgt euy. Besok aja ya sekalian nonton film di RB”. Saya tersenyum, bingung.

Hari itu rencananya saya mau ke rumah belajar binaan sebuah RPA (Rumah Perlindungan Anak) di Pasirkoja. Nah, ada dua orang teman saya (Lieza dan Mimim) yang pingin liat kegiatan rumah belajar itu, dan sekarang mereka juga sedang di perjalanan menuju ke sana. Wah, bisa ngomel2 ntar dua orang itu kalo ga jadi, hehehe. Akhirnya, segera saya hubungi mereka dan mengubah rencana untuk bertemu di perempatan Pasirkoja. Ngobrol dengan anak-anak di jalan aja lah, pikir saya. Apalagi saat itu saya hanya berjarak beberapa ratus meter lagi dari sana.


**********
Setelah saya sampai di perempatan, tempat anak-anak jalanan dan ibunya mangkal, lagi-lagi saya bingung. Kenapa sepi, ya? Ibu-ibu juga pada ga ada, saya menggumam sendiri. Hanya ada satu orang ibu yang sedang membersihkan gerobak jualannya.

“Kok sepi, bu? Anak-anak pada ke mana?”, tanya saya.
“Neng..telpon ke yayasan, neng!!”, ibu itu setengah berteriak menjawab pertanyaan saya.
Oo, emang ada acara apa bu, di yayasan?”
“Bukan, neng!! Anak-anak ditangkep!! Telpon ke yayasan, neng!!”,
ibu itu tambah panik.
“Ha?”

Saya kaget, tapi setelah itu segera saya hubungi seorang pekerja sosial di yayasan RPA itu dan memintanya bicara langsung dengan pihak yayasan. Di sebelah ibu itu yang berbicara dengan suara bergetar, saya terdiam.

Rabb...apa yang ingin Kau tunjukkan siang ini? Saya menarik nafas panjang.

**********
Setelah melapor, saya dan ibu itu menunggu pihak yayasan, yang katanya mau mampir ke perempatan ini sebelum ke Polsek. Ibu itu bercerita bahwa ketika beliau sedang Sholat Dzuhur ternyata di perempatan jalan itu ada razia dari Polsek. Anak-anak yang memang sedang bekerja di jalan itu pun ditangkap petugas termasuk para ibu yang sebagian besar berada di pinggir jalan. Ibu itu diberitahu dua orang anak yang berhasil melarikan diri.

“Ah, padahal mah neng, yang suka bikin ulah itu anak-anak yang udah pada gede. Suka mabok, berantem, kalo ga dikasih duit ngegores mobil. Tapi jadinya, anak-anak yang kecil juga kena tangkep. Untung Iki (anaknya) lagi sekolah, neng, ibu juga lagi sholat..kalo ga, pasti ibu juga ditangkep”, cerita ibu itu mengalir saat saya ngaso di gerobaknya.

“Tapi kalo lagi razia gini, anak-anak yang ga kena razia biasanya dapet uang banyak neng. Iki pernah dapet sampe lima puluh ribu”, ibu itu melanjutkan ceritanya sambil tersenyum bangga.

Saya hanya menatap si ibu, tidak ingin menanggapi. Hff..keras ya hidup mereka, pikir saya. Bahkan kejadian seperti ini malah jadi kesempatan bagus bagi anak yang lain. Tiba-tiba Hp CDMA saya berbunyi, teman saya mengabarkan kalau mereka hampir sampai.

“Handphone-nya banyak ya, neng?”, ibu itu menatap saya kagum. Duh, saya jengah.
Berapaan neng, harganya? Mahal ya?”

(Hff...saya merasa jadi penjahat saat itu. Walaupun banyak orang punya dua, tiga sampai banyak Hp; walaupun biasa aja orang yang punya dua Hp (satu GSM, satu CDMA); walaupun Hp itu insyaAllah halal, walaupun saya punya dua Hp untuk lebih memudahkan komunikasi dengan teman-teman BEM, tapi saya sebenernya lebih pingin si ibu ga tau tentang itu semua. Hehe, saya maksa ya? Padahal pasti Allah punya rencana yang hebat dengan menunjukkan hal ini ya. Mungkin untuk mengingatkan saya bahwa masih banyak orang yang lebih membutuhkan dan juga mengingatkan saya untuk lebih sering bersyukur atas tiap nikmat yang diberikan-Nya)


**********
Air yang menggenang di pinggir jalan sudah naik hingga trotoar, saya pun harus merelakan kaus kaki putih saya menghitam dan basah hingga setengah rok saya. Dua orang pekerja sosial dari yayasan datang dan berbincang sebentar sebelum mereka pergi menuju Polsek Bandung Barat untuk mengurus anak-anak yang ditangkap.

“Kamu teh ngapain di sini, Za?”, tanya mereka heran. Saya nyengir. Ya, soalnya biasanya kalau saya ke perempatan ini ditemani orang dari yayasan.
“Mau ikut ke Polsek ga?”, tanya mereka lagi.
Sejenak saya melirik ke kunci motor yang dipegang salah seorang dari mereka, “Kalian berdua pake satu motor kan?”, saya balik tanya. Dan akhirnya mereka yang gantian nyengir.
Hehe.. Ada-ada aja ya.

“Ini mah udah biasa, Za. Paling ntar sore anak-anak udah bisa pulang, ditahannya itu paling lama tiga jam“, jelas seorang dari mereka.

Saya hanya manggut-manggut mendengarnya. Yah, semoga anak-anak itu baik-baik saja.

**********
Setelah mereka pergi, saya kembali duduk di gerobak si ibu sambil menunggu teman saya yang ternyata belum sampai juga. Lima orang anak menghampiri kami, tiga perempuan, dua laki-laki. Salah satunya adalah Iki, anak ibu itu. Kami mengobrol, membahas kejadian razia hari itu, sampai ketika teman saya datang (ternyata mereka nyasar sekitar setengah jam dunk). Dengan berjingkat, mereka berjalan ke arah gerobak dan bergabung bersama kami. Setelah mengobrol beberapa saat, kami berpamitan pada ibu dan anak-anak di perempatan itu.

**********
Saya dan dua teman saya mampir sebentar ke rumah belajar, yang letaknya tidak begitu jauh dari perempatan, sekalian menunjukkan jalan ke mereka supaya besok-besok ga nyasar lagi. Hehehe.. setelah masuk ke gang tempat rumah belajar itu, seorang teman saya lebih banyak diam.

“Kamu kenapa, Mim?”, tanya saya ketika kami sedang memesan sate Padang di Griya, tak jauh dari sana juga.
“Iya, ternyata beda banget dari bayanganku sebelumnya ya.....bla, bla, bla”, teman saya itu menjawab.
Saya dan teman saya yang lain nyengir, dan berkomentar,
“Berat ya?”, “Aku ga paham”,

Hehehe...berat karena ga paham yang diomongin itu apa soalnya (Ampun, Mim). Setelah lama kami mengobrol di warung itu, kami memiliki kesimpulan yang sama, bahwa hidup anak-anak jalanan itu penuh tantangan, yang membuat mereka lebih dewasa sebelum waktunya. Seharusnya kami lebih banyak bersyukur karena mendapat kesempatan yang lebih baik dari mereka.

Ya, lagi-lagi saya mendapat hikmah dari adik-adik saya di jalan. Selalu seperti itu. Mereka mampu membuat saya makin mencintai mereka.


**********
Menjelang ashar, saya dan teman-teman saya memutuskan untuk pulang. Kami pun berpisah, saya berbeda arah dengan mereka. Di perjalanan pulang, saya mendapat kabar bahwa anak-anak yang ditangkap itu tidak bisa pulang hari ini, mereka ditahan sampai keesokan harinya. Itu pun berhasil setelah yayasan meminta bantuan KPAID.

Saya memberitahu teman saya berita itu,,kami miris. Salah satu balasan dari teman saya: Iya, don’t know what to say..padahal mungkin ini Cuma sebagian kecil pengalaman hidup yang sudah biasa mereka alami. Hari ini penuh pelajaran berharga..

Saya hampir menangis sewaktu membaca SMS dari teman saya itu. Padahal mungkin isinya sangat biasa, tapi bayangan mereka yang berjuang untuk hidup itu membuat semuanya tak lagi biasa.

Ada Donto, anak berumur 5 tahun, dengan helm dan spon busa untuk mengelap mobil atau motor yang lewat. Risma, bocah cantik 8 tahun yang bersuara bagus (Lagu favoritnya “Penganten Anyar” :D). Sri, anak pendiam yang rajin sekolah dan berulangkali meminta saya mengajari bahasa Arab (padahal saya juga ga bisa, hehe). Angga, Nia, Iki, Fahmi, dan anak-anak yang lainnya..


Bayangan mereka berlarian saat polisi datang merazia, ah apa ya yang mereka lakukan malam hari di kantor polisi? Tapi pasti mereka tetap ceria, dasar anak-anak! Pasti mereka tengah bermain, mencari kesenangan di sela-sela kerasnya hidup. Saya tersenyum saat ingat mereka pun lebih sering bermain di jalan daripada bekerja. Ya, selalu ada pelangi di mata mereka. Pelangi yang tidak akan hilang selama mereka berjuang untuk menjalani kehidupan.

Tapi Dik, semoga segera kau temukan cara yang lebih baik untuk memetik pelangi itu...

DAMRI, di suatu sore yang basah

Minggu, 22 Juni 2008

Anugerah Terindah...

Hari sudah semakin malam. Seharusnya saya sudah mulai mengerjakan skripsi karena tadi seharian listrik mati, ada pemadaman listrik bergiliran. Tapi saya belum bisa mencurahkan seluruh pikiran saya ke sana, hmm…mungkin karena perasaan saya sedang ‘penuh’. Banyak kejadian emosional dari kemarin, sampai tadi sore sewaktu orang tua saya menelepon.

Kangen.


Ya, saya kangen rumah. Sudah lama saya tidak pulang, ini rekor kedua saya setelah tahun kemarin. Memang tidak sebanding dengan teman-teman saya yang rumahnya lebih jauh, yang biasanya ngomel-ngomel kalau saya cerita ini. Hehe.. soalnya dalam tahun ini saya sudah dua kali pulang dan teman-teman saya terakhir kali pulang waktu lebaran tahun kemarin.


Walaupun belum sampai empat bulan saya tidak pulang, sudah banyak momen penting yang terlalui, tanpa saya...

  • Kelahiran Syifa, anak pertama dari Akhi, kakak saya yang ketiga. Beberapa hari menjelang kelahirannya, sama seperti kakak2 saya yang lain, kakak saya yang satu ini juga ‘merepotkan’ saya dengan meminta banyak pilihan nama untuk anaknya. :) Akhi juga meminta izin memakai nama Syifa (ini nama panggilan kesayangan saya dari Sidi, kakek saya). Hmm..tentu saja saya tidak keberatan, dan berarti bolehlah saya berpikir bahwa betapa ia mencintai adiknya yang keren ini. Hehehe...
  • Ulang tahun mama. Saya ingat waktu itu saya lagi gencar-gencarnya berhemat karena (ternyata) skripsi itu ‘mahal’ ya. Tapi saya ingin mengobrol dengan mama dan mengucapkan ‘happy bday’ langsung. Jadi, saya coba me-misscall mama yang kemudian tentu saja ditelepon balik ;) “Kenapa, nak?” “Selamat ulang tahun ya, ma..” bla..bla..bla....dan seterusnya “Tadi kenapa telp-nya putus waktu diangkat?” (hehehe, saya nyengir sendiri) “iya, ma..Lz pingin nelpon, mau ngucapin selamat ulang tahun, tapi karena lagi irit pulsa jadi misscall aja, jadinya kan mama yang nelpon” (dan akhirnya mama tertawa panjang, hehe..maafkan anakmu ya ma). Momen ini berakhir dengan terisinya pulsa hp saya beberapa waktu kemudian. Ah, mama...jadi malu :)
  • Adik saya, Nanda, lulus. Sebulan sebelumnya, dia menelepon saya..lagi-lagi menanyakan skripsi, dan “Duliku, kapan lulus?” he..cape deh. Ternyata di malam itu, dia baru saja membuat kejutan manis untuk keluarga, orang-orang tersayang. Memberi kado ulang tahun ayahnya dengan paket berisi skripsi, padahal tidak ada satu orang pun yang percaya dan pernah melihatnya berurusan dengan perskripsian. (tapi Duli percaya kok, Nda :))
    Dia adik sepupu saya, kami hanya berjarak lima bulan Tapi dia mampu membuat saya merasa punya adik laki-laki yang dari kecil saya inginkan. Saya sering sekali lupa kalau dia satu angkatan dengan saya. Ternyata dia sudah besar ya :) hehe, berasa udah tua banget jadinya.
  • Diva, keponakan saya dari Paduka, kakak saya yang kedua, katanya sudah bisa merangkak. Mama pernah menelepon sewaktu menginap di rumah Paduka karena Diva sakit. “Ga apa-apa kok, demam biasa aja, kayaknya karena mau merangkak” jelas mama waktu itu. Hmm...Bayi itu pertumbuhannya memang cepat ya.
  • Fazli, keponakan saya yang pertama (anak Tuan, kakak saya yang pertama) kemarin cerita kalau ia menang lomba. “Ibu, Anjeng menang lomba” (Nama adatnya Fazli itu Kanjeng Tuan Migo, hehe ribet ya? :p) “Wah, hebat...lomba apa, Njeng?” “Lomba masukin pensil dalem botol” (ia menjawab dengan bangga).
    Lalu... “Unan juga” (ini suara adiknya Fazli, ga mau kalah rupanya) “Unan lomba juga?” “Unan cekolah” (hehe, ga nyambung ternyata)
    Pembicaraan dengan dua balita ini biasanya berakhir dengan..”ibu, kapan pulang? bawain loti ya!!” (loti = roti) “Roti apa?” “Loti bonis” (bonis = Brownies).
  • “Nak, ikan peliharaan papi nambah. Sekarang jadi banyak ikan patin loh..” hehe, ini berita dari ayah saya. Ga jauh-jauh dari hobinya, yang sekarang dibisniskannya. Atau “Papi ditawarin masuk partai nih.. mending partai X atau Y?” “hmm, partai A aja, pi..kan keren, bagus banget, InsyaAllah baik” hehe..dan ternyata jawabannya adalah .. “ngga ah, partai A kan teroris. Kayak kamu, sering neror papi...ngerayu minta macem2”
    m(_ _)m
    (salah ngambil contoh, nih.. :p)
  • “Kamu lagi ngapain?”, “udah ga usah ngoyo”, “istirahat ya”, “udah makan belum?”, “kamu ini ngapain sih di jalan terus?”, “nginep di bandung lagi? ga bagus ah keluyuran terus”, de el el. Ini kalimat rutin mama selama saya mengerjakan skripsi, sampai-sampai Febi, teman saya, juga ikut diceramahin. Hehe... ma, skripsi Liza kan tentang anak jalanan, jadi ya wajar lah nongkrong di jalan mulu :)
  • Waktu itu saya lagi mengikuti pelatihan di RSHS. Tuan menelepon, berkali-kali tapi sepertinya akan repot kalau saya angkat. Akhirnya saya sms kalau sedang ga bisa angkat telp. “knp?”, “gpp, kangen aja” (yaah, kirain apa. Baru juga kemarin nelp).
    Malamnya kakak saya menelepon lagi, ternyata beliau sudah di Palembang. Kami membahas banyak hal dari pernikahan seorang adik sepupu kami sampai topik lainnya “....dulu kan tuan ama teman-teman yang berjuang untuk reformasi. Jadi sekarang kalian dong yang meneruskan”. Haaah, dasar mantan aktivis! Dampak dua tahun jadi ketua senat mahasiswa ternyata masih sangat berpengaruh. Bagus lah, pertahankan idealisme itu bro!!
  • “Dek..kapan pulang? Ada games terbaru loh, ---- (saya lupa apa namanya). Cariin ya di Bandung, di sini mahal nih”. Ini Akhi yang menelepon. “Hah? Akhi...kirain mau nitip beliin mainan atau apa gitu buat Syifa, ternyata....ck..ck...(sok tua neh)”, “ga mau? Awas ya kalau nanti pinjem” (ya jangan gitu juga sih...hehe)
  • "Dek, paduka ama papi lagi di Palembang nih. Ada tuan juga”, Waah, berita yang menyenangkan untuk saya, hehe. “Asiiik...kirimin empek-empek ya, kemplang juga! Lewat tiki bisa, atau kirim aja via bis nanti Liza yang ambil”, “aah kamu ini. Selalu aja minta kirimin macem-macem, nyesel deh gw cerita”. Huehehe...
  • “Duli...kita lagi di kampung nih, mau pesta kambing guling di ladang. Kasian deh ga ikut” Ini celotehan sepupu2 saya yang memang sengaja membuat saya keki. Tapi ga mupeng kok.. :p
  • “Nak, besok kita mau ziarah ke kuburannya Sidi (kakek saya) loh” Berita dari mama ini membuat saya terdiam cukup lama, mencoba menghitung dalam hati...ya, berarti sudah empat tahun Sidi pergi. Hmm, kangen sidi...my beloved hero
  • Dan masih banyak lagi cerita yang mereka kirimkan, tentang momen-momen tanpa kehadiran saya, agar saya tak melewatkannya. Tiap cerita itu membuat saya merangkainya menjadi bayangan yang indah, menjadikannya nyata dalam pikir, dan merasakan bahwa saya sedang ada bersama mereka.
    (tapi tetep aja kangen...)

Keluarga saya bukanlah keluarga yang romantis abis, tapi insyaAllah cinta tidak akan ada habis-habisnya. Selalu ada perhatian dan cinta yang ditunjukkan dengan cara masing-masing. Walaupun sewaktu kecil saya sering sekali protes karena beberapa perlakuan orang tua saya yang berbeda untuk kakak-kakak saya dan saya, seiring berjalannya waktu tak hentinya saya syukuri. Mereka selalu mendukung apa yang saya pilih, “terserah Liza aja, Liza yang lebih tau apa yang terbaik”, saya hanya perlu memberikan alasan yang kuat untuk pilihan itu, menjalankan pilihan itu dengan sebaik mungkin, dan menerima segala konsekuensinya. Sebuah pelajaran yang tak ternilai harganya...

Rabb, terima kasih atas anugerah yang indah ini. Berikanlah hidayah dan ridho-Mu, kekalkanlah kasih sayang di antara kami dan pertemukanlah kami kembali di jannah-Mu kelak.



Teruntuk keluarga tercinta..
Pap, Mam,
Tuan, Paduka, Akhi,
Kanjeng, Mahkota, Suhunan,
Fazli, Mara, Diva, Syifa,
Seluruh Mega-ers dan Muin-ers..
InsyaAllah..akan kubawakan pelangi itu untuk kalian
Luv u all

:)

Negeri Pelangi (1): Antara Jalanan dan Kehidupan


Creek…creek…creek…
Semilir angin berhembus…
Bawa dendangkan lagu...
Mengapa anak jalanan...
Tergantung hidup di jalan...
Creek…creek…creek…


Bagi pelanggan setia angkutan umum, lirik lagu di atas pasti akrab di telinga. Biasanya yang menyanyikan lagu ini adalah anak kecil berpakaian lusuh dengan membawa kecrekan, yang terbuat dari tutup botol minuman yang digepengkan dan dipaku pada sepotong kayu.

Ya, mereka adalah anak-anak yang kita sebut anak jalanan. Anak-anak yang termarjinalkan dari kehidupan masyarakat. Mungkin saat ini banyak yang merasa jumlah mereka semakin banyak, semakin mengganggu ketertiban, keindahan, dan kenyamanan kota. Fenomena anak jalanan ini pun seperti gunung es, yang hanya tampak pada permukaannya.

Kenapa anak-anak itu turun ke jalan? Seperti apa karakternya? Hmm, saya tidak akan menceritakan detailnya di sini karena itu berarti saya harus memindahkan skripsi saya ke sini :P

Apa yang menarik dari anak jalanan? Dengan penampilan yang kumuh dan perilaku yang kasar? Ini adalah apa yang pernah saya pikirkan sewaktu SMU dulu. Saya lebih memandang mereka sebagai anak-anak yang memiliki (atau memilih) hidup yang menyedihkan. Dulu saya hanya memperhatikan mereka di jalan dan sekitar terminal yang selalu saya lewati setiap hari. Di terminal itu juga ada satu ruko yang bernama ‘rumah singgah...’ (saya lupa namanya, kalau tidak salah ‘Ananda’). Saya juga selalu menyempatkan diri untuk membaca perkembangan mereka yang diulas di koran.

Namun, itu semua hanya bersifat simpati, hmm..mungkin lebih tepatnya ketertarikan. Saya tertarik untuk melihat lebih jauh seperti apa kehidupan mereka, apa yang membuat mereka turun ke jalan, apa yang mereka rasakan, lalu bagaimana cara membantu mereka. Hanya itu. Saya tidak bergerak. Terlalu berat rasanya untuk melangkah mendekati mereka. Hhfff...mereka kan tampak menyeramkan. Jadi saya putuskan membantu lewat doa saja hingga suatu waktu saya diberi kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan mereka.

Setelah saya tinggal di Bandung (Jatinangor sebenernya, hehe..), ternyata jumlah anak jalanannya lebih banyak dibandingkan di Lampung (ya iya lah...kan kotanya lebih ‘besar’). Sangat mudah (sekali) menemukan anak jalanan di pinggir-pinggir jalan, terminal, pasar, dan pusat keramaian lainnya.

Dulu saya sempat kesal dengan pemerintah terutama dinas sosial yang memasang peringatan untuk tidak memberi uang kepada anak-anak jalanan tersebut. Anak-anak itu butuh makannya sekarang bukan? Kalau harus menunggu bantuan dari pemerintah kapan mereka makannya? Memangnya sudah pasti akan didistribusikan ke anak-anak itu dana yang masuk ke dinas sosial? Dan masih banyak lagi ‘protes-protes’ yang saya ajukan.

Sedari kecil, orang tua saya selalu mengajarkan untuk memberi, bahkan ayah saya selalu memberi saya sangu sekantung uang receh jika saya akan berpergian. Untuk pengamen dan anak-anak di jalan, katanya. Itulah salah satu hal yang mungkin membuat saya pernah menentang peraturan itu, ditambah lagi ketidakpercayaan saya kepada pemerintah. :)

(Ya..memang setelah mengikuti lika-liku dunia per-psikologi-an, sekarang pendapat saya tentang peringatan ini sudah sangat jauh berbeda)

Pada kuliah semester dua, saya sering pulang malam hari karena harus mengikuti les di Bandung. Karena bus Damri hanya ada sampai pukul enam, jadi saya harus pulang dengan menggunakan angkot. St.Hall – Gedebage, Cicadas – Cibiru, Cibiru (Cicaheum) – Cileunyi, Cileunyi – Jatinangor (Bener ga ya rute angkotnya?). Di Cileunyi, biasanya ada satu orang anak yang mengamen di sana dengan lagu favoritnya...

“......... Mengapa harus takut pada matahari
kepalkan tangan lawan teriknya
Mengapa harus takut pada malam hari,
nyalakan lilin sebagai penerangnya.....”

Hampir setiap saya menunggu angkot di sana, ia juga ada di sana, setia bersama kecrekannya. Jika ia belum muncul, biasanya saya celingukan mencarinya soalnya saya merasa sebenarnya ia bernyanyi untuk menyemangati saya. Hehe... :)

Waktu itu saya harus menghadapi banyak ujian, mulai dari ujian semester (UAS) sampai ujian SPMB (yang kedua). Saya sempat merasa patah semangat, tidak yakin saya bisa melaluinya dan nyaris pasrah bahwa saya tidak bisa lulus SPMB nantinya.
Jadi ya sudah... “nikmati” saja UAS di kampus walaupun dengan setengah hati. Tapi kemudian, setiap malam anak itu bernyanyi untuk saya, perlahan-lahan menyuntikkan energi agar saya terus berjuang (ya..ini hanya ada dalam pikiran saya). Saya bersyukur Allah mengirimkan anak itu.

Akhirnya, Alhamdulillah jadi juga saya hijrah kuliah dan saya merasa harus berterima kasih kepada anak itu. Namun sampai sekarang saya tidak sempat berkenalan dengannya karena setelah saya selesai ujian, ia tidak lagi mengamen di sana. Semoga ia mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik ya.. dan sepertinya sejak saat itu, anak-anak sering sekali menjadi sumber inspirasi bagi saya.

Selanjutnya, mulailah saya ‘disibukkan’ dengan berbagai aktivitas akademik dan non akademik. Saya bergabung dengan KPAR (Kelompok Pencinta Anak & Remaja) dan berharap bisa belajar dan membantu anak-anak dan remaja yang membutuhkan. Itu juga yang menggerakkan saya untuk bergabung dengan PAS-ITB (Pembinaan Anak-anak Salman). Walaupun tentu saja ada motif-motif lainnya :)

Di PAS inilah pertama kalinya saya bersentuhan langsung dengan anak-anak jalanan, di acara Unpad Peduli, acara seminar dan buka puasa bersama. Saya dan beberapa orang teman diminta untuk meng-handle anak-anak sebelum dan sesudah acara buka puasa dimulai. Dan ternyata...perjuangan yang cukup berat. Kami dibuat kelelahan :) Mereka energik sekali, cukup sulit diatur, mau menang sendiri, suka berebutan, dan sebagainya. Tapi saya tahu mereka tidak bermaksud jahat, mereka hanya belum tahu dan belum terbiasa dengan keteraturan.

Selesai sholat Maghrib berjamaah, seorang anak berumur sekitar lima tahun menatap saya dan berkata, “kakak...aku mau baca doa untuk ibu..” Saya hanya mengangguk dan kemudian menyimak doanya dengan mata kaca...

Dik, teruslah berdoa di setiap desahan nafasmu...karena Ia mendengarnya

Mari Berkata-kata (Lagi)

Minggu kemarin saya mengikuti seminar usulan penelitian seorang teman saya, tentang hubungan self-efficacy (keyakinan akan kemampuan diri) dengan engagement membaca literatur ber-Bahasa Inggris. Menarik, tapi juga membingungkan. :)
Seminarnya cukup panjang, membahas banyak hal, terkadang jadi sedikit keluar konteks. Tapi ada hal yang masih terekam jelas di kepala saya, yaitu pertanyaan seorang dosen saya tentang definisi membaca dan berbahasa. Sejenak pikiran saya sempat keluar dari ruangan itu, menjelajah sendiri. :)

Saya teringat dengan pembicaraan dengan seorang sahabat saya, tentang dunia tanpa kata. Kami mendiskusikan hal ini karena ternyata kami sering berbicara tanpa kata-kata, hanya dengan isyarat, tatapan mata, atau bahkan tanpa melakukan perilaku overt apa pun. Kami menyebutnya bahasa kalbu. Hehe...

Lalu, apa jadinya dunia ketika tidak lagi ada kata-kata di dalamnya?

Kata memang diperlukan untuk menyampaikan maksud kita kepada orang lain. Tetapi kalau ternyata maksud itu sudah tersampaikan pada orang lain, berarti kata-kata tidak lagi diperlukan dong? Hmm..mungkin ada yang tidak setuju dan mengatakan bahwa dalam komunikasi diperlukan suatu feedback. Ok..tapi kalau feedback juga bisa diberikan tanpa kata-kata, berarti urusan juga sudah selesai bukan? :)

Ya, memang cukup riskan. Oleh karena itu, perlu ada bumbu tambahannya, yang tanpa bumbu ini bahasa kalbu sulit dilakukan. Bumbunya adalah ta’liful qulb (keterikatan hati), yang artinya juga dibutuhkan adanya rasa saling memahami.

Dengan bahasa kalbu ini, jikalau ada kata-kata yang dikeluarkan insyaAllah akan lebih mudah dipahami. Contohnya, saya baru menyadari ternyata saya cukup sering menamakan sesuatu dengan bahasa saya sendiri. :) Sebagian teman yang memang dekat dengan saya, biasanya sudah terbiasa dan mengerti apa maksud saya, namun bagi yang keterikatannya belum begitu kuat biasanya akan mengernyitkan dahi dan memasang tampang serius. Hehe...Tapi ini bukan berarti saya hidup di dunia lain loh.

Ada beberapa orang sahabat saya yang juga sering mengeluarkan kata-kata ’aneh’, yang pada akhirnya pun kami terbiasa dengan kata-kata yang kami ciptakan.
Saya sempat berpikir, apa saya tidak nasionalis ya? Kan sudah ada bahasa persatuan. Kalau semua punya bahasa sendiri nanti maknanya akan berbeda-beda jadinya. Tapi saya bukannya mau mengaburkan makna sebenarnya dari kata-kata itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sebenarnya ketika kita berada dalam situasi yang sama dan sedang merasakan hal yang sama, kita akan sangat mudah memahami apa yang dikatakan seseorang.

Tapi ya..terlepas dari semua itu, untuk urusan tulis-menulis tentu sulit jika tidak ada kata-kata karena justru itulah senjata utamanya. Kalau tidak ada kata, lalu apa yang kita tulis? Hehe.. Satu hal yang saya pelajari adalah ternyata kata-kata itu lebih sulit digunakan untuk menulis daripada untuk berbicara. Ah, rasanya berat sekali untuk bisa melahirkan untaian kata-kata, butuh usaha yang tidak mudah. Tapi biasanya karena perjuangan inilah, rasanya nikmat sekali jika telah selesai menulis (Hmm..tapi akan berat lagi ketika akan mulai menulis lagi =D). Mungkin itu maksud dari ”menulis itu berarti mati dan hidup berulang kali”, ya? Saya lupa baca kalimat ini di mana..

********************
Tiba-tiba saya bingung mau berkata-kata apa lagi karena ternyata kata-kata saya di atas jadi panjang ya... =D
Sebenarnya file tulisan ini sudah ada sejak beberapa bulan yang lalu, tapi baru beberapa kalimat. Setelah itu, saya menjadi
'malas’ menulis. Saya kembali tergelitik untuk meneruskannya karena ada yang ’megingatkan’ saya untuk menulis bukan hanya berpikir untuk menulis, hehe...hatur nuhun ya.

Semoga tiap kata yang kita keluarkan bermanfaat ya, atau paling tidak jangan sampai merugikan atau menyakiti orang lain.
Hmm...mari berkata-kata :)

Kamis, 28 Februari 2008

Mengeja Kata

Sewaktu kecil, saya sangat suka sekali membaca. Sangat. Membaca apa pun. Buku, majalah, koran, buku tugas orang tua saya, spanduk dan iklan di jalanan, bahkan label-label yang ada di berbagai barang. Menyenangkan sekali. Apalagi saat itu keluarga saya berlangganan dua koran (lokal dan nasional), tabloid (untuk ibu saya), dan dua majalah anak (khusus untuk saya). Saya juga masih ingat sewaktu kecil ayah sering mengajak saya ke toko buku di samping pasar tradisional di kota saya sambil menunggu ibu saya berbelanja. Dan itu adalah tempat yang sangat menyenangkan bagi saya, walaupun di seberang toko itu adalah tempat pembuangan sampah, yang tentu saja sering mengeluarkan bau tak sedap.


Tapi kemudian, kesenangan itu seakan terhenti. Saya seolah terlupa dengan semua itu. Saya pernah menyalahkan paman saya dan beberapa orang lainnya yang berpengaruh terhadap terhentinya minat saya untuk membaca. Mereka pernah memarahi saya dan ”melarang” saya untuk membaca (setidaknya seperti itu yang pernah saya pikirkan). Padahal mungkin itu mereka lakukan karena melihat saya sudah berlebihan. Mungkin saja. Karena sangat suka membaca, saya sering tidak peduli di mana pun saya berada dan sedang apa pun saya. Sebisa mungkin saya membawa bacaan saya ke mana pun saya pergi. Saat makan pun, saya tetap membaca. Ya bisa ditebak, saya menghabiskan waktu yang lama untuk sekali makan. Ibu saya sering mengingatkan, tapi tampaknya beliau kemudian memilih untuk membiarkan karena waktu itu saya termasuk anak yang susah makan. Jadi, kalau dengan membaca saya mau makan, itu mungkin lebih baik.


Walaupun demikian, saya tetap punya waktu bermain dengan teman-teman saya. Tapi setelah itu, saya akan kembali asyik dengan dunia saya. Saya ingat ada kejadian memalukan yang sering saya lakukan dulu. Karena ada masalah dengan jemputan sekolah saya, orang tua saya akhirnya memperbolehkan saya untuk berangkat dan pulang sekolah sendiri. Untuk pulang ke ke rumah, saya harus menaiki angkot dari terminal dan sebelumnya saya harus berjalan kaki sekitar sepuluh menit ke sana. Jika tidak sedang bersama teman-teman, saya akan menggunakan waktu perjalanan itu untuk membaca. Ya, membaca sambil berjalan (semoga tidak ada yang meniru ya). Hasilnya, saya sering sekali menabrak sebuah tiang telepon yang ada di tengah- tengah trotoar. Parahnya, itu tidak menyurutkan niat saya untuk tetap membaca di perjalanan pulang itu (saya selalu tersenyum geli jika melewati tiang itu sekarang).
Seorang guru SD saya sepertinya melihat gejala ‘kecanduan baca’ yang saya alami. Sampai-sampai sewaktu ada tugas Bahasa Indonesia untuk membuat sinopsis buku, saya sering mendapat jatah yang paling banyak dibandingkan teman-teman saya. Saya masih ingat beberapa novel sastra tebal yang saya buat sinopsisnya, di meja makan (tetep loh). Hehe. Ya, saya menikmatinya. Menikmati kecanduan itu.


Namun, semua itu berubah karena tiba-tiba beberapa orang saudara saya mengikuti apa yang saya lakukan. Apalagi ketika keluarga paman saya pindah di dekat rumah saya. Anaknya, yang tentu saja belum punya banyak teman, selalu bermain bersama saya. Penularan pun terjadi. Hasilnya, ia mulai suka membaca saat makan. Ternyata ayahnya tidak menyukai hal itu. Sewaktu tahu siapa yang menularkan pada anaknya (hehe), beliau pun mulai melakukan aksi ”pelarangannya”.
Aksi ini tampaknya berhasil, apalagi setelah itu saya masuk ke SMP favorit yang punya seabrek tugas dan kegiatan. Saya merasa semakin sedikit waktu yang saya punya punya untuk membaca. Lama kelamaan pun semakin menyurut intensitas saya dalam membaca. Saya hanya ’sempat’ membaca majalah-majalah remaja yang ringan, ya sekedar untuk mengisi waktu luang. Saya pun hanya bisa mengagumi teman-teman saya yang suka membaca, mereka hebat ya! Masih sempat membaca banyak buku.


Begitulah, hingga saya masuk SMU. Awalnya, saya cukup sering ke perpustakaan sekolah, tapi itu karena tuntutan tugas sekolah dan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) untuk mencari bahan laporan. Selebihnya, waktu istirahat rasanya lebih menyenangkan dihabiskan di kantin, ^^.


Hingga kemudian, saya kembali teringat dengan nikmatnya membaca ketika saya melakukan sebuah perubahan dalam hidup saya menjelang akhir kelas 3 SMU: memakai jilbab. Perubahan yang membuat saya harus banyak membaca karena banyak sekali hal yang tidak saya ketahui. Rasanya seperti orang linglung, ketika tidak tau harus bergerak ke arah mana. Dengan membaca, setidaknya saya tau bahwa ada banyak arah hidup dengan konsekuensinya masing-masing, yang membantu saya mengambil keputusan arah mana yang sebaiknya saya ikuti.


Dan hingga saat ini, saya berusaha untuk tetap menjaga kenikmatan itu, menjaga semangat untuk mengeja kata demi kata yang tertangkap oleh mata. Kata yang kemudian akan dimaknakan dalam diri. Sulit? Memaknakannya, itu yang kadang terasa sulit. Tetapi, saya tetap ingin belajar, agar tak lagi sulit.


Ya, membaca buku mungkin bukanlah yang sulit karena kita sudah bisa membaca sejak lama. Sejak ibunda guru mengajarkan bagaimana caranya mengeja. Namun, apakah kita mampu membaca apa yang tersirat dari setiap kata itu? Karena dalam setiap kata, insyaAllah akan bisa kita temukan ”makna”nya, asal kita mau berusaha. Bukankah Allah dalam menciptakan sesuatu tidak dalam kesia-siaan?


Semangat!!!


Katanya, "kemampuan menulis itu berbanding lurus dengan ketekunan kita membaca." Jadi ya, banyaklah membaca jika ingin bisa banyak menulis. insyaAllah.. =)