Tuesday, February 6, 2018
Kapan Update Blog?
Sunday, February 1, 2009
Dewasa, Harapan, dan Kenyataan
Tuesday, December 16, 2008
Hidup Baru :)
Dan akhirnya..setelah sekian lama blog ini tidak di-update, sekarang tibalah saat yang berbahagia (n_n) saya kembali berselancar di dunia maya ini. Cerita kali ini akan diawali dengan kabar-kabari dari saya ^^
Alhamdulillah setelah melewati perjuangan yang cukup panjang..selesai juga tugas saya sebagai mahasiswa S1. Sekitar empat bulan yang lalu saya mengikuti prosesi wisuda sarjana. Walaupun sebenarnya rasa lega itu sudah memenuhi rongga dada saat dosen penguji mengucapkan selamat pasca sidang. Tapi yaa, bagi kebanyakan orang kan upacara wisuda-lah akhir dari perjuangan kuliah :) Akhir dari kuliah…tapi awal untuk perjuangan baru. Episode seperti apa yang akan saya lalui setelahnya?
Selepas masa perkuliahan, saya sempat mengalami disorientasi. Bingung menentukan langkah selanjutnya. Berbagai rencana yang pernah disusun mendadak menjadi satu hal yang tidak menarik, tidak realistis, bahkan terkesan egois. Saya sendiri kaget dengan apa yang saya alami. Belum lagi dua bulan setelah itu saya kembali ke kampung halaman (rencana untuk ‘tinggal dulu’ di Bandung ternyata ditentang habis oleh keluarga besar =D). Akhirnya kembali menjadi ‘anak rumahan’ setelah sembilan tahun pergi. Yah, walaupun semasa SMU dan kuliah saya sering pulang, tapi biasanya itu dalam rangka liburan dan tentu saja tidak lama.
Campur aduk perasaan saya ketika harus pulang dan meninggalkan kehidupan di Bandung yang telah cukup lama saya akrabi. Saya sadar bahwa saya harus segera menyesuaikan diri terhadap ini semua. Bukankah saya begitu mencintai kampung halaman saya ini? Saya pun pernah berjanji untuk kembali pulang padanya. Mungkin inilah saatnya.
Tapi ternyata, walaupun saya mencoba untuk menikmatinya, proses penyesuaian diri ini sempat membuat saya stres. Banyak hal yang dulunya biasa saja, tiba-tiba menjadi masalah =D Lucu memang..karena saya juga mengalami cultureshock, di kampung halaman saya sendiri. Sampai akhirnya seseorang yang sangat saya hormati (ayah relawan Gunungkidul-red) mengingatkan saya, “shock ya dengan kampung sendiri? Jangan2 orang kampung juga shock lihat Liza :)” Jleb banget rasanya, hehe. Saya jadi sadar bahwa bukan saya sendiri yang ‘belum nyaman’ dengan perubahan-perubahan ini. Nuhun ya, pak.
Yah, setelah itulah saya mencoba untuk lebih bertoleransi atas apa saja yang tidak sesuai dengan diri saya, karena bukankah orang lain juga bertoleransi atas kehadiran saya, yang secara langsung maupun tidak langsung juga memberikan perubahan dalam kehidupan mereka?
Suatu situasi memang akan lebih menenangkan ketika kita mampu memahami dan menerimanya. Itulah yang saya coba lakukan. Menerima perubahan dan melakukan penyesuaian terhadapnya memang tidak mudah, tapi mau tidak mau harus dijalani. Jadi, ya tentu saja harus berdamai dengan diri sendiri dan situasi.
Salah satu ciri seseorang yang sehat mental adalah reality testing-nya baik (mampu menerima kenyataan) dan mampu menyesuaikan diri. Saya sadar, mental saya sempat ‘terguncang’. Terbukti kemarin saya sempat psikosomatis, karena cukup aneh dengan kondisi saya yang tercukupi gizi dan istirahat =D tetapi malah kemudian sering sakit. Kata ayah saya, saya sedang slow down, yang biasanya berkecepatan 100 km/jam menjadi 40 km/jam (seorang sahabat malah sempat berseloroh, “20 km/jam kali” :D). Meskipun situasinya berbeda, beliau sepertinya sedang menurunkan ilmu “cara menghadapi masa pensiun” (yang telah dilewatinya) pada saya.
Alhamdulillah saya (dibantu dengan beberapa sahabat) mecoba ‘mengobati’ diri saya, dan mengajaknya kembali bercengkerama dengan berbagai aktivitas. Walaupun saat ini badan sulit bergerak dengan lincah, tapi setidaknya saya tidak ingin kepala saya diam saja :) Saya ingin terus belajar untuk bisa menerima, menikmati hidup, dan mengamalkan apa-apa yang telah saya dapatkan.
Mohon doanya kawan...semoga diri ini bisa selalu bermanfaat :)
Salam,
Liza :)
NB: Kampung halaman saya ini, terutama kota kecil nan tenang tempat saya tinggal, banyak dikagumi oleh teman-teman luar daerah yang berkunjung. Kota yang bersahabat dan memiliki banyak harta karun. Kapan-kapan berkunjunglah, kawan..
Monday, June 23, 2008
Negeri Pelangi (2): Hidup itu Perjuangan
**********
“Neng..telpon ke yayasan, neng!!”, ibu itu setengah berteriak menjawab pertanyaan saya.
“Oo, emang ada acara apa bu, di yayasan?”
“Bukan, neng!! Anak-anak ditangkep!! Telpon ke yayasan, neng!!”, ibu itu tambah panik.
“Ha?”
Saya kaget, tapi setelah itu segera saya hubungi seorang pekerja sosial di yayasan RPA itu dan memintanya bicara langsung dengan pihak yayasan. Di sebelah ibu itu yang berbicara dengan suara bergetar, saya terdiam.
Rabb...apa yang ingin Kau tunjukkan siang ini? Saya menarik nafas panjang.
Setelah melapor, saya dan ibu itu menunggu pihak yayasan, yang katanya mau mampir ke perempatan ini sebelum ke Polsek. Ibu itu bercerita bahwa ketika beliau sedang Sholat Dzuhur ternyata di perempatan jalan itu ada razia dari Polsek. Anak-anak yang memang sedang bekerja di jalan itu pun ditangkap petugas termasuk para ibu yang sebagian besar berada di pinggir jalan. Ibu itu diberitahu dua orang anak yang berhasil melarikan diri.
”Berapaan neng, harganya? Mahal ya?”
Air yang menggenang di pinggir jalan sudah naik hingga trotoar, saya pun harus merelakan kaus kaki putih saya menghitam dan basah hingga setengah rok saya. Dua orang pekerja sosial dari yayasan datang dan berbincang sebentar sebelum mereka pergi menuju Polsek Bandung Barat untuk mengurus anak-anak yang ditangkap.
**********
Saya dan dua teman saya mampir sebentar ke rumah belajar, yang letaknya tidak begitu jauh dari perempatan, sekalian menunjukkan jalan ke mereka supaya besok-besok ga nyasar lagi. Hehehe.. setelah masuk ke gang tempat rumah belajar itu, seorang teman saya lebih banyak diam.
“Iya, ternyata beda banget dari bayanganku sebelumnya ya.....bla, bla, bla”, teman saya itu menjawab.
Saya dan teman saya yang lain nyengir, dan berkomentar,
“Berat ya?”, “Aku ga paham”,
**********
Menjelang ashar, saya dan teman-teman saya memutuskan untuk pulang. Kami pun berpisah, saya berbeda arah dengan mereka. Di perjalanan pulang, saya mendapat kabar bahwa anak-anak yang ditangkap itu tidak bisa pulang hari ini, mereka ditahan sampai keesokan harinya. Itu pun berhasil setelah yayasan meminta bantuan KPAID.
Sunday, June 22, 2008
Anugerah Terindah...
Hari sudah semakin malam. Seharusnya saya sudah mulai mengerjakan skripsi karena tadi seharian listrik mati, ada pemadaman listrik bergiliran. Tapi saya belum bisa mencurahkan seluruh pikiran saya ke sana, hmm…mungkin karena perasaan saya sedang ‘penuh’. Banyak kejadian emosional dari kemarin, sampai tadi sore sewaktu orang tua saya menelepon.
Kangen.
Ya, saya kangen rumah. Sudah lama saya tidak pulang, ini rekor kedua saya setelah tahun kemarin. Memang tidak sebanding dengan teman-teman saya yang rumahnya lebih jauh, yang biasanya ngomel-ngomel kalau saya cerita ini. Hehe.. soalnya dalam tahun ini saya sudah dua kali pulang dan teman-teman saya terakhir kali pulang waktu lebaran tahun kemarin.
Walaupun belum sampai empat bulan saya tidak pulang, sudah banyak momen penting yang terlalui, tanpa saya...
- Kelahiran Syifa, anak pertama dari Akhi, kakak saya yang ketiga. Beberapa hari menjelang kelahirannya, sama seperti kakak2 saya yang lain, kakak saya yang satu ini juga ‘merepotkan’ saya dengan meminta banyak pilihan nama untuk anaknya. :) Akhi juga meminta izin memakai nama Syifa (ini nama panggilan kesayangan saya dari Sidi, kakek saya). Hmm..tentu saja saya tidak keberatan, dan berarti bolehlah saya berpikir bahwa betapa ia mencintai adiknya yang keren ini. Hehehe...
- Ulang tahun mama. Saya ingat waktu itu saya lagi gencar-gencarnya berhemat karena (ternyata) skripsi itu ‘mahal’ ya. Tapi saya ingin mengobrol dengan mama dan mengucapkan ‘happy bday’ langsung. Jadi, saya coba me-misscall mama yang kemudian tentu saja ditelepon balik ;) “Kenapa, nak?” “Selamat ulang tahun ya, ma..” bla..bla..bla....dan seterusnya “Tadi kenapa telp-nya putus waktu diangkat?” (hehehe, saya nyengir sendiri) “iya, ma..Lz pingin nelpon, mau ngucapin selamat ulang tahun, tapi karena lagi irit pulsa jadi misscall aja, jadinya kan mama yang nelpon” (dan akhirnya mama tertawa panjang, hehe..maafkan anakmu ya ma). Momen ini berakhir dengan terisinya pulsa hp saya beberapa waktu kemudian. Ah, mama...jadi malu :)
- Adik saya, Nanda, lulus. Sebulan sebelumnya, dia menelepon saya..lagi-lagi menanyakan skripsi, dan “Duliku, kapan lulus?” he..cape deh. Ternyata di malam itu, dia baru saja membuat kejutan manis untuk keluarga, orang-orang tersayang. Memberi kado ulang tahun ayahnya dengan paket berisi skripsi, padahal tidak ada satu orang pun yang percaya dan pernah melihatnya berurusan dengan perskripsian. (tapi Duli percaya kok, Nda :))
Dia adik sepupu saya, kami hanya berjarak lima bulan Tapi dia mampu membuat saya merasa punya adik laki-laki yang dari kecil saya inginkan. Saya sering sekali lupa kalau dia satu angkatan dengan saya. Ternyata dia sudah besar ya :) hehe, berasa udah tua banget jadinya. - Diva, keponakan saya dari Paduka, kakak saya yang kedua, katanya sudah bisa merangkak. Mama pernah menelepon sewaktu menginap di rumah Paduka karena Diva sakit. “Ga apa-apa kok, demam biasa aja, kayaknya karena mau merangkak” jelas mama waktu itu. Hmm...Bayi itu pertumbuhannya memang cepat ya.
- Fazli, keponakan saya yang pertama (anak Tuan, kakak saya yang pertama) kemarin cerita kalau ia menang lomba. “Ibu, Anjeng menang lomba” (Nama adatnya Fazli itu Kanjeng Tuan Migo, hehe ribet ya? :p) “Wah, hebat...lomba apa, Njeng?” “Lomba masukin pensil dalem botol” (ia menjawab dengan bangga).
Lalu... “Unan juga” (ini suara adiknya Fazli, ga mau kalah rupanya) “Unan lomba juga?” “Unan cekolah” (hehe, ga nyambung ternyata)
Pembicaraan dengan dua balita ini biasanya berakhir dengan..”ibu, kapan pulang? bawain loti ya!!” (loti = roti) “Roti apa?” “Loti bonis” (bonis = Brownies). - “Nak, ikan peliharaan papi nambah. Sekarang jadi banyak ikan patin loh..” hehe, ini berita dari ayah saya. Ga jauh-jauh dari hobinya, yang sekarang dibisniskannya. Atau “Papi ditawarin masuk partai nih.. mending partai X atau Y?” “hmm, partai A aja, pi..kan keren, bagus banget, InsyaAllah baik” hehe..dan ternyata jawabannya adalah .. “ngga ah, partai A kan teroris. Kayak kamu, sering neror papi...ngerayu minta macem2”
m(_ _)m
(salah ngambil contoh, nih.. :p) - “Kamu lagi ngapain?”, “udah ga usah ngoyo”, “istirahat ya”, “udah makan belum?”, “kamu ini ngapain sih di jalan terus?”, “nginep di bandung lagi? ga bagus ah keluyuran terus”, de el el. Ini kalimat rutin mama selama saya mengerjakan skripsi, sampai-sampai Febi, teman saya, juga ikut diceramahin. Hehe... ma, skripsi Liza kan tentang anak jalanan, jadi ya wajar lah nongkrong di jalan mulu :)
- Waktu itu saya lagi mengikuti pelatihan di RSHS. Tuan menelepon, berkali-kali tapi sepertinya akan repot kalau saya angkat. Akhirnya saya sms kalau sedang ga bisa angkat telp. “knp?”, “gpp, kangen aja” (yaah, kirain apa. Baru juga kemarin nelp).
Malamnya kakak saya menelepon lagi, ternyata beliau sudah di Palembang. Kami membahas banyak hal dari pernikahan seorang adik sepupu kami sampai topik lainnya “....dulu kan tuan ama teman-teman yang berjuang untuk reformasi. Jadi sekarang kalian dong yang meneruskan”. Haaah, dasar mantan aktivis! Dampak dua tahun jadi ketua senat mahasiswa ternyata masih sangat berpengaruh. Bagus lah, pertahankan idealisme itu bro!! - “Dek..kapan pulang? Ada games terbaru loh, ---- (saya lupa apa namanya). Cariin ya di Bandung, di sini mahal nih”. Ini Akhi yang menelepon. “Hah? Akhi...kirain mau nitip beliin mainan atau apa gitu buat Syifa, ternyata....ck..ck...(sok tua neh)”, “ga mau? Awas ya kalau nanti pinjem” (ya jangan gitu juga sih...hehe)
- "Dek, paduka ama papi lagi di Palembang nih. Ada tuan juga”, Waah, berita yang menyenangkan untuk saya, hehe. “Asiiik...kirimin empek-empek ya, kemplang juga! Lewat tiki bisa, atau kirim aja via bis nanti Liza yang ambil”, “aah kamu ini. Selalu aja minta kirimin macem-macem, nyesel deh gw cerita”. Huehehe...
- “Duli...kita lagi di kampung nih, mau pesta kambing guling di ladang. Kasian deh ga ikut” Ini celotehan sepupu2 saya yang memang sengaja membuat saya keki. Tapi ga mupeng kok.. :p
- “Nak, besok kita mau ziarah ke kuburannya Sidi (kakek saya) loh” Berita dari mama ini membuat saya terdiam cukup lama, mencoba menghitung dalam hati...ya, berarti sudah empat tahun Sidi pergi. Hmm, kangen sidi...my beloved hero
- Dan masih banyak lagi cerita yang mereka kirimkan, tentang momen-momen tanpa kehadiran saya, agar saya tak melewatkannya. Tiap cerita itu membuat saya merangkainya menjadi bayangan yang indah, menjadikannya nyata dalam pikir, dan merasakan bahwa saya sedang ada bersama mereka.
(tapi tetep aja kangen...)
Keluarga saya bukanlah keluarga yang romantis abis, tapi insyaAllah cinta tidak akan ada habis-habisnya. Selalu ada perhatian dan cinta yang ditunjukkan dengan cara masing-masing. Walaupun sewaktu kecil saya sering sekali protes karena beberapa perlakuan orang tua saya yang berbeda untuk kakak-kakak saya dan saya, seiring berjalannya waktu tak hentinya saya syukuri. Mereka selalu mendukung apa yang saya pilih, “terserah Liza aja, Liza yang lebih tau apa yang terbaik”, saya hanya perlu memberikan alasan yang kuat untuk pilihan itu, menjalankan pilihan itu dengan sebaik mungkin, dan menerima segala konsekuensinya. Sebuah pelajaran yang tak ternilai harganya...
Rabb, terima kasih atas anugerah yang indah ini. Berikanlah hidayah dan ridho-Mu, kekalkanlah kasih sayang di antara kami dan pertemukanlah kami kembali di jannah-Mu kelak.
Teruntuk keluarga tercinta..
Pap, Mam,
Tuan, Paduka, Akhi,
Kanjeng, Mahkota, Suhunan,
Fazli, Mara, Diva, Syifa,
Seluruh Mega-ers dan Muin-ers..
InsyaAllah..akan kubawakan pelangi itu untuk kalian
Luv u all
:)
Negeri Pelangi (1): Antara Jalanan dan Kehidupan
Bawa dendangkan lagu...
Tergantung hidup di jalan...
Pada kuliah semester dua, saya sering pulang malam hari karena harus mengikuti les di Bandung. Karena bus Damri hanya ada sampai pukul enam, jadi saya harus pulang dengan menggunakan angkot. St.Hall – Gedebage, Cicadas – Cibiru, Cibiru (Cicaheum) – Cileunyi, Cileunyi – Jatinangor (Bener ga ya rute angkotnya?). Di Cileunyi, biasanya ada satu orang anak yang mengamen di sana dengan lagu favoritnya...
kepalkan tangan lawan teriknya
Mengapa harus takut pada malam hari,
nyalakan lilin sebagai penerangnya.....”
Mari Berkata-kata (Lagi)
Seminarnya cukup panjang, membahas banyak hal, terkadang jadi sedikit keluar konteks. Tapi ada hal yang masih terekam jelas di kepala saya, yaitu pertanyaan seorang dosen saya tentang definisi membaca dan berbahasa. Sejenak pikiran saya sempat keluar dari ruangan itu, menjelajah sendiri. :)
Saya teringat dengan pembicaraan dengan seorang sahabat saya, tentang dunia tanpa kata. Kami mendiskusikan hal ini karena ternyata kami sering berbicara tanpa kata-kata, hanya dengan isyarat, tatapan mata, atau bahkan tanpa melakukan perilaku overt apa pun. Kami menyebutnya bahasa kalbu. Hehe...
Lalu, apa jadinya dunia ketika tidak lagi ada kata-kata di dalamnya?
Kata memang diperlukan untuk menyampaikan maksud kita kepada orang lain. Tetapi kalau ternyata maksud itu sudah tersampaikan pada orang lain, berarti kata-kata tidak lagi diperlukan dong? Hmm..mungkin ada yang tidak setuju dan mengatakan bahwa dalam komunikasi diperlukan suatu feedback. Ok..tapi kalau feedback juga bisa diberikan tanpa kata-kata, berarti urusan juga sudah selesai bukan? :)
Ya, memang cukup riskan. Oleh karena itu, perlu ada bumbu tambahannya, yang tanpa bumbu ini bahasa kalbu sulit dilakukan. Bumbunya adalah ta’liful qulb (keterikatan hati), yang artinya juga dibutuhkan adanya rasa saling memahami.
Dengan bahasa kalbu ini, jikalau ada kata-kata yang dikeluarkan insyaAllah akan lebih mudah dipahami. Contohnya, saya baru menyadari ternyata saya cukup sering menamakan sesuatu dengan bahasa saya sendiri. :) Sebagian teman yang memang dekat dengan saya, biasanya sudah terbiasa dan mengerti apa maksud saya, namun bagi yang keterikatannya belum begitu kuat biasanya akan mengernyitkan dahi dan memasang tampang serius. Hehe...Tapi ini bukan berarti saya hidup di dunia lain loh.
Ada beberapa orang sahabat saya yang juga sering mengeluarkan kata-kata ’aneh’, yang pada akhirnya pun kami terbiasa dengan kata-kata yang kami ciptakan.
Saya sempat berpikir, apa saya tidak nasionalis ya? Kan sudah ada bahasa persatuan. Kalau semua punya bahasa sendiri nanti maknanya akan berbeda-beda jadinya. Tapi saya bukannya mau mengaburkan makna sebenarnya dari kata-kata itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sebenarnya ketika kita berada dalam situasi yang sama dan sedang merasakan hal yang sama, kita akan sangat mudah memahami apa yang dikatakan seseorang.
Tapi ya..terlepas dari semua itu, untuk urusan tulis-menulis tentu sulit jika tidak ada kata-kata karena justru itulah senjata utamanya. Kalau tidak ada kata, lalu apa yang kita tulis? Hehe.. Satu hal yang saya pelajari adalah ternyata kata-kata itu lebih sulit digunakan untuk menulis daripada untuk berbicara. Ah, rasanya berat sekali untuk bisa melahirkan untaian kata-kata, butuh usaha yang tidak mudah. Tapi biasanya karena perjuangan inilah, rasanya nikmat sekali jika telah selesai menulis (Hmm..tapi akan berat lagi ketika akan mulai menulis lagi =D). Mungkin itu maksud dari ”menulis itu berarti mati dan hidup berulang kali”, ya? Saya lupa baca kalimat ini di mana..
********************
Tiba-tiba saya bingung mau berkata-kata apa lagi karena ternyata kata-kata saya di atas jadi panjang ya... =D
Sebenarnya file tulisan ini sudah ada sejak beberapa bulan yang lalu, tapi baru beberapa kalimat. Setelah itu, saya menjadi 'malas’ menulis. Saya kembali tergelitik untuk meneruskannya karena ada yang ’megingatkan’ saya untuk menulis bukan hanya berpikir untuk menulis, hehe...hatur nuhun ya.
Semoga tiap kata yang kita keluarkan bermanfaat ya, atau paling tidak jangan sampai merugikan atau menyakiti orang lain.
Thursday, February 28, 2008
Mengeja Kata
Tapi kemudian, kesenangan itu seakan terhenti. Saya seolah terlupa dengan semua itu. Saya pernah menyalahkan paman saya dan beberapa orang lainnya yang berpengaruh terhadap terhentinya minat saya untuk membaca. Mereka pernah memarahi saya dan ”melarang” saya untuk membaca (setidaknya seperti itu yang pernah saya pikirkan). Padahal mungkin itu mereka lakukan karena melihat saya sudah berlebihan. Mungkin saja. Karena sangat suka membaca, saya sering tidak peduli di mana pun saya berada dan sedang apa pun saya. Sebisa mungkin saya membawa bacaan saya ke mana pun saya pergi. Saat makan pun, saya tetap membaca. Ya bisa ditebak, saya menghabiskan waktu yang lama untuk sekali makan. Ibu saya sering mengingatkan, tapi tampaknya beliau kemudian memilih untuk membiarkan karena waktu itu saya termasuk anak yang susah makan. Jadi, kalau dengan membaca saya mau makan, itu mungkin lebih baik.
Walaupun demikian, saya tetap punya waktu bermain dengan teman-teman saya. Tapi setelah itu, saya akan kembali asyik dengan dunia saya. Saya ingat ada kejadian memalukan yang sering saya lakukan dulu. Karena ada masalah dengan jemputan sekolah saya, orang tua saya akhirnya memperbolehkan saya untuk berangkat dan pulang sekolah sendiri. Untuk pulang ke ke rumah, saya harus menaiki angkot dari terminal dan sebelumnya saya harus berjalan kaki sekitar sepuluh menit ke sana. Jika tidak sedang bersama teman-teman, saya akan menggunakan waktu perjalanan itu untuk membaca. Ya, membaca sambil berjalan (semoga tidak ada yang meniru ya). Hasilnya, saya sering sekali menabrak sebuah tiang telepon yang ada di tengah- tengah trotoar. Parahnya, itu tidak menyurutkan niat saya untuk tetap membaca di perjalanan pulang itu (saya selalu tersenyum geli jika melewati tiang itu sekarang).
Namun, semua itu berubah karena tiba-tiba beberapa orang saudara saya mengikuti apa yang saya lakukan. Apalagi ketika keluarga paman saya pindah di dekat rumah saya. Anaknya, yang tentu saja belum punya banyak teman, selalu bermain bersama saya. Penularan pun terjadi. Hasilnya, ia mulai suka membaca saat makan. Ternyata ayahnya tidak menyukai hal itu. Sewaktu tahu siapa yang menularkan pada anaknya (hehe), beliau pun mulai melakukan aksi ”pelarangannya”.
Hingga kemudian, saya kembali teringat dengan nikmatnya membaca ketika saya melakukan sebuah perubahan dalam hidup saya menjelang akhir kelas 3 SMU: memakai jilbab. Perubahan yang membuat saya harus banyak membaca karena banyak sekali hal yang tidak saya ketahui. Rasanya seperti orang linglung, ketika tidak tau harus bergerak ke arah mana. Dengan membaca, setidaknya saya tau bahwa ada banyak arah hidup dengan konsekuensinya masing-masing, yang membantu saya mengambil keputusan arah mana yang sebaiknya saya ikuti.
Dan hingga saat ini, saya berusaha untuk tetap menjaga kenikmatan itu, menjaga semangat untuk mengeja kata demi kata yang tertangkap oleh mata. Kata yang kemudian akan dimaknakan dalam diri. Sulit? Memaknakannya, itu yang kadang terasa sulit. Tetapi, saya tetap ingin belajar, agar tak lagi sulit.
Ya, membaca buku mungkin bukanlah yang sulit karena kita sudah bisa membaca sejak lama. Sejak ibunda guru mengajarkan bagaimana caranya mengeja. Namun, apakah kita mampu membaca apa yang tersirat dari setiap kata itu? Karena dalam setiap kata, insyaAllah akan bisa kita temukan ”makna”nya, asal kita mau berusaha. Bukankah Allah dalam menciptakan sesuatu tidak dalam kesia-siaan?
Semangat!!!
Katanya, "kemampuan menulis itu berbanding lurus dengan ketekunan kita membaca." Jadi ya, banyaklah membaca jika ingin bisa banyak menulis. insyaAllah.. =)
Sebuah Perjalanan
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.
Begitu juga dengan kaca besar yang dilapisi film sehingga membuat suasana di luar menjadi sedikit buram. Tapi saya masih mendapat kesempatan untuk menikmati indahnya langit sore ini. Mungkin agar saya dapat sedikit melupakan gundah hari ini, agar saya dapat memecahkan teka-teki hikmah yang dipersiapkan hari ini.
Apa yang Ia rencanakan untuk saya hari ini?
Pertanyaan itu serasa menggantung di langit-Nya, seakan meminta saya untuk segera mencari jawabnya.
Saya rasa kepala saya berdenyut ketika saya mengingat berbagai potongan kejadian hari ini.
Kepala saya mulai sakit ketika serombongan siswa SMP menaiki angkot yang saya tumpangi. Tepat di depan saya, seorang remaja SMP itu duduk. Saya menatapnya. Entah mengapa, saya merasa ia mirip dengan saya sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Sepuluh tahun yang lalu?
Ah, bukankah saat itu adalah saat saya mulai merenda mimpi, yang insyaAllah bisa terwujud sebentar lagi (Ya, walaupun “sebentar” itu juga relatif ^_^).
Sepuluh tahun yang lalu, ketika saya mulai merangkai mimpi, menetapkan cita-cita saya, tanpa ada paksaan dari siapa pun. Cita-cita yang mungkin cukup aneh bagi anak seusia saya yang tinggal di sebuah kota kecil. Cita-cita yang membuat saya harus menguatkan hati karena tidak banyak yang mendukung. Mungkin karena banyak yang tidak mengerti apa yang bisa saya lakukan dengan cita-cita itu. Tapi saya tetap bangga dengan cita-cita itu. Walaupun saya sempat nyaris menghentikannya selama hampir satu tahun.
Tapi, saya tetap yakin.. tidak ada yang terjadi secara kebetulan, karena setelah hampir setahun berkelana, mimpi itu kembali saat seorang sahabat berkata, “Pit.. emang ga mau ya mewujudkan cita-cita?” (Thanks, Gung. Kalimat yang tertulis di sobekan kertas kecil itu masih saya ingat sampai sekarang).
Dan semua terasa diatur dengan begitu rapi. Saat saya teringat dengan mimpi itu, di telinga saya terdengar lagu AFI Junior.. “Aku bisa..aku pasti bisa, ku kan terus berusaha....”
Saya tersenyum sambil memandang langit yang nyaris gelap. Mencoba meyakini bahwa apa yang terjadi hari ini bukanlah nasib pecundang ^_^, tapi persiapan yang dilakukan oleh pemenang dengan mundur bebarapa langkah agar lompatan yang dihasilkan akan semakin jauh. InsyaAllah..
Apakah itu bisa menjawab teka-teki hari ini?
Perjalanan sore ini menjadi menyenangkan, hingga tidak terasa saya sudah sampai di Cileunyi, yang berarti saya harus berganti angkot. Dan setelah dari angkot hijau itu, saya langsung mendapati angkot yang menuju Jatinangor.
Satu menit, dua menit, sepuluh menit.. angkot itu belum juga berangkat. Padahal hari sudah semakin malam. Beberapa penumpang mulai tidak sabar dan segera turun kembali. Entah mengapa, saya enggan untuk turun. Saya tetap berada dalam angkot itu, mencoba menikmati pemandangan di pertigaan tempat angkot itu mangkal. Mengamati berbagai “tanda” yang ada di sana, hingga mata saya tertumbuk pada sebuah pemandangan yang membuat saya miris. Anak-anak itu.. Lusuh, kumal, dan mungkin juga bau tanah (dalam arti yang sebenarnya. Bau tanah karena kotoran yang melekat di tubuhnya, seperti Donto, “adik” saya di Pasar Caringin). Mereka berkerumun di suatu tempat, sepertinya bersama keluarga mereka. Entah apa yang dilakukan, mungkin bercengkrama, berbagi cerita. Jarak yang terlalu jauh membuat saya tidak bisa mengamati dengan detail.
Angkot itu masih belum juga berangkat. Penumpang yang baru naik mulai resah. Tampaknya, Pak Supir benar-benar pencari nafkah sejati ^_^. Tapi saya tetap enggan untuk beranjak turun. Biarlah.. (Toh, saya sudah minta izin untuk pulang “sedikit” malam. Hehe.. Ampun, mbak)
Tak lama kemudian, seorang gadis kecil berpenampilan lusuh menghampiri angkot dan mulai bernyanyi di pintu angkot. Saya terhenyak. Apakah pemandangan di depan saya ini masih menjadi bagian dari teka-teki hari ini?
Jujur, saya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dinyanyikannya, karena di telinga saya juga dengan jelas mengalun harmonisasi nada dari mp4 saya. Tapi, saya kembali teringat dengan apa yang saya lakukan selama satu semester ini. Bukan. Selama beberapa tahun ini tepatnya. Bukankah adik-adik ini yang menjadi inspirasi bagi saya? Mengisi bagian hidup saya.. hingga hari ini.
Tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Saya teringat dengan biskuit yang ada dalam tas saya.
Apakah karenanya saya tidak jadi bertemu dengan adik-adik di Cicaheum sore tadi?
Segera saya ambil satu bungkusan dari tas, dan memberikannya pada gadis kecil itu. Tanpa memberikan kesempatan pada rasio saya, yang selalu melarang untuk memberikan reward kepada adik-adik itu. Kali ini, mungkin naluri saya yang menang. Mungkin, karena hari ini hati saya begitu lelah menerka. Tapi gadis kecil tadi mengingatkan saya tentang tujuan yang ingin saya raih. Lagi-lagi tentang cita-cita.. Terimakasih, adikku.. (gadis kecil itu kemudian bergegas menemui kerumunan tadi, tapi kemudian saya tidak bisa mengamati dengan jelas karena angkot itu mulai bergerak).
Ya, hari ini penuh dengan memori tentang mimpi, tentang cita-cita..
Semoga Allah meridhoi mimpi itu, agar menjadi nyata, agar nyata dengan penuh keberkahan...
Dan perjalanan “panjang” hari ini berakhir dengan pemandangan langit yang indah dengan bulan setengah lingkaran yang ditemani bintang-bintang. Saya sempat menikmatinya sesaat sebelum saya masuk ke dalam rumah yang di dalamnya sudah menunggu saudara-saudara saya (yang katanya sudah mulai kangen dengan saya. Hehe..)
..Cerita di suatu sore..
Comment:
Btw jadi inget langit sore di tol kemaren n langit di jalan mau ke sakura. Langit itu indah. Langit itu menakjubkan......ah.....apalagi yang menciptakannya.
Langit tak pernah biasa, Bintang tak pernah biasa, Keduanya memang titik kecil bila dibandingkan dengan Dia Yang Maha Besar, tapi ada satu hal besar,keduanya ada untuk menjalankan sunnah-Nya,tetap berdzikir menyebut nama-Nya
(hehee..kapan nih mau di posting, dah duluan di kasi comment deh ;b)
Balasan untuk comment:
Hehe.. tulisan yang fresh from the oven ini pun langsung dikasih comment ama Febi. Padahal belum tentu dipublikasikan, bi..
Moga tulisan ini bisa jadi awal untuk kembali bercerita lewat tulisan, setelah sekian lama.. ^_^
Rembulan tenggelam bi? Kurang lengkap, harusnya ditambah sang pemimpi, one minute mother, film The Secret, bahkan bukunya Om Norman VP, dsb. Dan yang paling penting...
dan bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya?
Sunday, February 17, 2008
Guru Tersayang
Juli 2007. Akhirnya selesai juga saya membaca Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata!! Senangnya, soalnya sudah lama mulainya tapi ga beres2 juga. Hehe.. Tampaknya minat saya pada dunia baca-membaca & tulis-menulis lagi terpasung nih (terpasung rasa malas! Hehe..)
Sekarang pun, saya bingung mau mulai nulis dari mana, sepertinya terlalu banyak yang pingin saya ceritakan. Secara saya sudah lama ga pernah nulis. Baiklah, saya akan awali dengan childhood memories, pendidikan, dan setumpuk rasa terima kasih untuk seluruh guru saya..
Beliau mengajar di sana sejak pertama kali kami pindah dari sebuah desa bernama Purbolinggo (tempat kelahiran saya & 2 kakak saya) sekitar tahun 1980-an akhir. Saat itu, saya masih kecil (ya iya lah..). Saya sering sekali ikut mengantar beliau pergi mengajar. Juga saat SD itu mengadakan kegiatan, saya hampir selalu ikut serta. Sebenarnya saya ingin bersekolah di sana. Tapi, ibu saya tidak mendaftarkan saya di sana melainkan ke sebuah SD yang cukup favorit di kota kecil tempat kami tinggal. Tapi, tetap saja saya sering sekali ikut serta dalam kegiatan SD itu.
Sampai akhirnya saya duduk di kelas 4, tingkat di mana ibu saya mulai mengajar matematika. Beliau mengadakan les matematika gratis di rumah dan menjadikan saya sebagai salah seorang muridnya. Hmm... atau mungkin sebagai ”asisten” beliau. Jujur, les dengan ibu saya kurang menantang bagi saya karena saat itu saya hampir selalu bisa menjawab pertanyaan dan soal yang diberikan. Bahkan ketika teman-teman saya (murid-murid ibu saya) tidak bisa menjawab, mereka menoleh ke arah saya dan akhirnya kami mengerjakan bersama. Saya juga sering membantu ibu saya memeriksa hasil ujian mereka.
O ya, ibu saya itu dulu adalah guru yang galak. Hehe.. bahkan sampai sekarang, kalau saya dan kakak saya bertemu dengan teman-teman yang dulunya adalah murid beliau, sering mereka bertanya, ”Nyokap lu masih galak ga?” Pertanyaan yang membuat kami selalu tertawa jika mendengarnya. Ibu saya dulu memang guru yang galak, tapi juga yang paling disayang. Buktinya, murid-muridnya selalu memenuhi rumah kami jika waktu les tiba dan juga berkunjung saat lebaran. Bahkan, anak gurunya pun sering diajak main (saya maksudnya, hehe) ^_^
Guru, tak hanya membuka mata seseorang untuk melihat dunia tetapi juga membuka hati dan menyalakan harapan di dalamnya. Ilmu yang tak akan pernah habis, bahkan salah satu amal jariyah (yang akan terus mengalir pahalanya walaupun telah meninggal) adalah ilmu yang bermanfaat.
Dear guru-guru di TK Pertiwi (Ibu Tatik, benar kah? Maafkan anakmu yang ternyata sudah lupa bahkan dengan namamu..), SD Pertiwi Teladan (Pak Udin, Wak Nurlela, Pak Susilo, Bu Wardah dan semuanya..), SLTPN 1 (Pak Koes tersayang, Bu Rochima, Bu Resti, Ibu Nurliyati, Bu Erlina, Bu Fat, Bu Pariaman, dan seluruh guru yang insyaAllah selalu saya cinta hingga kini), SMUN 2 (Bu Yuli, Bu Usa, Pak Herman, Bu Astini (Binda-ku sayang, semoga sehat selalu), dan semuanya yang telah mengiringi masa terindah itu), HI Unpad (Pak Reza, kajur-ku (benar kah namanya? Hiks.. kenapa sudah lupa ya?), Pak Wawan & Pak Dadan (yang telah memberikan tes lisan yang “mematikan” itu), dosen Sistem Hukum Indonesia (duh, saya ngaku2 bahwa beliau dosen favorit saya, tapi saya malah lupa namanya) dan semua dosen yang seringkali membuat saya mengernyitkan dahi dan berpikir keras ^_^ Thanks a bunch!), Psiko Unpad (Bu Rintana (hatur nuhun untuk oleh2nya, bu..), Bu SRA (Ibu...kangen bimbingan ^_^), Mbak Ninin, Mbak Titis, Mas Hary, dan semua dosen yang membantu “mengobati” diri saya di sini. Hehe.. Alhamdulillah.. Allah memberikan saya kesempatan untuk berusaha mewujudkan mimpi saya), TK Al-quran (Jl.Sumbawa no.3 Metro, hmm.. itu alamatnya bukan? Sekolah kedua saya sampai kelas 6 SD. Tempat saya belajar bahwa hidup tak hanya dipenuhi dengan ilmu untuk mengenal dunia. Ibu Hanna Khairul Ummah.. kangen, bu. Sudah sering sekali saya mimpi ibu. Ibu apa kabar?).
Dan untuk seluruh guru saya di sekolah kehidupan..terima kasih mengajari saya tentang hidup..
Rabb, lindungilah mereka selalu.. dan berkahilah ilmu kami..
(Masih) Tentang Ukhuwah
“Tindak pundi?”
“Nuwun sewu”
Saya berusaha untuk menghafalkan kata-kata ini tepat sehari sebelum saya dan teman-teman saya berangkat ke lokasi KKN di Gunungkidul.
Cemas. Itu yang saya rasakan saat itu. Apalagi dua malam sebelum keberangkatan, Mas-mas dari TAC (Tombo Ati Center) PKS memberikan simulasi mengenai bagaimana cara mendekati dan membantu warga yang menjadi korban gempa. Sulit ternyata karena “warga desa” (yang diperankan oleh mereka) adalah warga yang galak dan sulit untuk menerima kedatangan orang baru. Yang terpenting adalah semuanya (kecuali Pak Lurah) berbahasa Jawa, mulai dari bahasa yang lembut (terdengarnya) sampai bahasa “gaulnya” mereka.
Ya, itu memang hanya simulasi. The worst case, kata mereka. Tapi tetap saja saya khawatir karena mungkin saja masyarakat seperti itulah yang akan saya hadapi nanti. Karena pentingnya menguasai bahasa setempat, setelah mendapat beberapa kosa kata dari Mas Fatan (trainer TAC), saya dan teman-teman pun meminta kursus kilat bahasa Jawa kepada Mbak Yani (teman KKN saya yang asli Boyolali) dan dari BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia), ada Mbak Tari dan Mbak Pandu (miss u, mbak2), yah paling tidak untuk bahasa yang sering digunakan sehari-hari.
Kursus kilat dalam waktu sehari? Waa, ternyata tidak begitu hebat perkembangannya. Tetap saja saya merasa kesulitan untuk mengingat-ingat kata apa yang harus saya gunakan jika harus berbicara sesuatu dalam bahasa Jawa. Padahal saya
Saya pun menyerah untuk sementara dan berharap masyarakat di daerah yang akan saya tinggali nanti bisa menerima saya dan teman-teman saya (walaupun dengan bahasa Jawa yang payah). Beruntungnya, Mbak Yani sekelompok dengan saya. Artinya saya bisa kursus lagi selama di
27 Juni 2006, saat pertama kalinya saya dan teman-teman menginjakkan kaki di Dukuh Ngasinan, Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul. Tepat sebulan setelah terjadinya gempa besar di
Memasuki perbatasan dukuh, mobil kami disambut dengan anak-anak berpakaian muslim dan muslimah yang kemudian berlari mengiringi mobil kami sampai kami berhenti di sebuah rumah mungil yang terletak di samping sebuah masjid. Rupanya anak-anak itu adalah santri TPA masjid itu, yang saat itu sedang dibina oleh seorang ustadz relawan dari P2B PKS Jabar (Ustadz Fatih, pripun kabare?).
Di rumah mungil itu, kami diterima oleh sebuah keluarga muda, Pak Arif dan Mbak Sri dengan dua orang jundinya, remaja peduli: Salsa 5 tahun dan mas ganteng: Fauzan 2 tahun (hehe.. tampaknya yang mengerti julukan ini hanya tim MMC Gedangsari). Mereka sangat ramah dan menjamu kami dengan sangat baik. Kami dipersilakan untuk menggunakan sebuah ruangan di rumahnya sebagai kamar untuk akhwat (yang berjumlah
Hari-hari pertama di
Pasca gempa, desa ini mengalami berbagai kerusakan. Banyak bangunan yang rusak bahkan hancur, terutama di daerah yang lebih tinggi datarannya. Masyarakat pun masih merasa takut akan terjadinya gempa susulan. Mereka menjadi lebih sensitif dengan getaran dan suara gemuruh.
Walaupun dilanda musibah ini, masyarakat di
Melihat kondisi ini, saya dan teman-teman kelompok KKN saya memutuskan untuk mendekati masyarakat dengan pendekatan agama. Hal ini juga sesuai dengan tujuan dari BSMI (provider kami), yang berfokus pada pendidikan dan agama. Oya, judul kegiatan ini adalah
Saya sangat terharu melihat antusiasnya masyarakat menerima kami. Mereka menganggap kami adalah bagian dari mereka dan berusaha untuk membantu kesulitan-kesulitan kami. Mereka mengundang kami bila mereka mengadakan hajatan. Mereka juga seringkali mengirimi kami makanan hingga persediaan makanan kami sangat berlimpah, mulai dari pisang, kacang-kacangan, sampai buah asam dsb. Sungguh, saya dan teman-teman merasakan kedekatan yang teramat sangat dengan mereka. Padahal siapalah kami, pendatang dari kota yang berdalih akan membantu masyarakat di sana. Tidak ada yang sebelumnya kami kenal. Kami benar-benar “sendiri”, dan harus menjalani kehidupan yang berbeda di sana. Minim fasilitas, angkutan umum sangat jarang sekali, bahkan jaringan GSM ataupun CDMA di sana hanya ada satu (ga boleh sebut merk ya?).
Subhanallah.. Alhamdulillah.. Allahu Akbar..!!
Kami mendapat banyak pertolongan di sana. Saya jadi teringat nasihat yang saya dapatkan dari Ustadz Teten (relawan P2B juga).
Tentang Ukhuwah Islamiyah..
Sebuah ikatan hati atas nama aqidah.
Itulah yang menyatukan dan mengikatkan saya dan teman-teman saya dengan masyarakat di sana. Padahal sebelumnya kami terpisahkan dengan jarak yang sangat jauh, ratusan kilometer (atau mungkin ribuan?). Tapi, tidak dipermasalahkan dari mana asal kami, ketidakmampuan kami berbahasa mereka, gaya kami yang mungkin berbeda dengan mereka, bahkan mungkin sedikitnya ilmu yang kami punya.
Subhanallah.. Tidak pernah kami merasa kekurangan, malah ketenangan yang kami dapatkan di sana.
Masa-masa di sanalah, saya mulai menyadari betapa dahsyatnya kekuatan sebuah ukhuwah. Ukhuwah yang menyebabkan hati-hati di dalamnya akan merasakan apa yang dirasakan oleh yang lainnya. Bukankah muslim itu bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya sakit maka yang lainnya ikut berduka cita?
Walaupun sekarang kami kembali terpisahkan oleh jauhnya jarak, semoga ukhuwah itu akan tetap terjaga. Sampai saat ini, pengalaman dua bulan di sana menjadi kenangan terindah bagi saya dan teman-teman saya, yang selalu membuat kami ingin kembali ke sana. Saya pun selalu menanti datangnya kabar dari mereka,
“Mbak Liza apa kabar? Salsa, Fauzan, dan semuanya Alhamdulillah baik”
“Alhamdulillah mbak, TPA-nya lancar. Makin semangat sekarang”
“Mbak kapan ke sini lagi?
“Mbak, mohon doanya semoga saya bisa tegar menjadi relawan lokal ya”
(Oya, saya juga mendapat sms bahagia dari Mas Fatan yang menggenapkan separuh diennya pada awal Januari lalu. Barakallah..)
Semangat terus, saudaraku!! ^_^
Semoga Allah senantiasa melindungi dan merahmati kita semua, dan menjaga agar kita selalu berada di jalan-Nya.
Ukhibbukum fillah..
Siang ini saya dan teman-teman insyaAllah akan silaturahim ke rumah Ustadz Teten (murobbi kami) di Subang (wah..jadi inget nasi liwet buatan pak Ustadz waktu di
Januari 2007
